.entry-content p { text-align: justify; }
August 7

Memulai Hidup Baru “Belajar Menjadi Seorang Minimalis”

Menarik? silahkan berbagi..

Mumpung masih bulan syawal *eh udah lewat yah? hahaha, masih bisa lah ya ngucapin Minal Aidzin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir batin yaa teman-teman semua 🙂

Lebaran kali ini berasa spesial banget, spesial rempong dan ribetnya. Rempong karena aktivitas lebaran juga dibarengi dengan aktivitas pindahan rumah dengan barang-barang yang seabrek. Dan parahnya hampir sebagian besar itu adalah barang-barang saya! Parah lagi kebanyakan barang  tersebut adalah barang yang ga jelas kegunaannya dan hampir ga pernah saya pakai, tapi kok ya masih disimpan gitu. Ckckck

Oh Wo de Tian! Oh My Lady Gagaa, helllp!!! *tertimbun tumpukan barang

Di tengah kebingungan dan kegalauan tersebut, entah angin apa yang membuat saya untuk cari tahu lebih banyak tentang Hidup Minimalis. Suami saya sering protes dan komen juga, mbok ya hidup minimalis kayak orang Jepang itu lhoo, baju ga usah banyak-banyak, piring dan gelas secukupnya, beli barang kebutuhan pokok aja, dll. Awalnya sih saya anggap angin lalu saja karena saya pikir punya banyak barang, baju, perlengkapan toilet, dapur, akan sangat bermanfaat nantinya. Yang penting punya, pasti kepake juga nantinya, itu prinsip atau lebih tepatnya justifikasi saya dalam menimbun barang.

Having More with Less

Entah kena senggol jin dari mana tiba-tiba saya mendapat sebuah pencerahan. Pencerahan bahwa saya sudah jenuh dengan prinsip yang saya pegang selama ini, dan bahwa saya harus segera merubah diri. Segera! Akhirnya saya pun browsing dan cari sumber-sumber info tentang cara hidup minimalis baik dari dalam maupun luar negeri. Saya pun berkenalan dengan metode KonMari yang dipopulerkan oleh mbak Marie Kondo. Konsultan kebersihan dari Jepang juga  penulis buku best seller Spark Joy dan The Life-Changing Magic of Tidying Up.  Setelah nonton beberapa videonya di youtube dan juga oleh orang-orang yang sudah mempraktekkan metodenya, saya pun terbius dan tertarik juga untuk mencobanya. Intinya saya mau merubah status saya dari PENIMBUN BARANG menjadi pribadi yang lebih baik, lebih hemat dan punya sedikit barang. Sampai di titik ini saya sepenuhnya sadar bahwa :

Banyak Barang = Cepat Berantakan = Butuh waktu banyak untuk membereskan/membersihkan = Capek = Ribet dan  Stress!

Coba kalau kita balik logikanya

Sedikit barang = ga butuh waktu banyak untuk beres-beres = rapi = hemat tenaga = Lega dan plong!

Nah, jadi menurut metode KonMarie dari Jepang tersebut menyebutkan bahwa sebenarnya yang kita perlukan hanyalah sedikit barang, tapi yang paling bermanfaat dan berguna bagi hidup kita. Kita bisa mulai menyortir barang-barang dengan mengajukan pertanyaan ini “Apakah barang ini membuat saya senang? atau dalam bahasanya mba Marie, Does it  Spark Joy? Kalau jawabannya adalah Yes, keep it! If no, dispose of it.

Dengan sedikit barang di rumah maka pelan-pelan kita akan melepaskan keterikatan diri dengan benda-benda tersebut, dan disitulah sedikit demi sedikit beban hidup kita akan berkurang, hati rasanya lega dan plong!

The Magic of Tyding Up!

Hmmm rasanya masih belum percaya ya kalau belum mempraktekkan sendiri. Okehh yuk kita langsung cuz praktek beres-beres dan berbenah dengan metode KonMarie 🙂

Mb Marie menyarankan kita untuk memulai menyortir barang berdasarkan itemnya, bukan per lokasi. Tyding by category — > clothes, books, papers, komono (stationary, electronics, kitchen utensils) and sentimental items.

Hanya gunakan  prinsip Yes or No saat memilih barang, ga ada yang namanya istilah “hmm, maybe I’ll need it”, “Oh, I could use it for the next child, or I’ll keep this coz it has a memory in my life”, semua coreettt! Intinya Yes or No, ga ada maybe-maybe, deal?

Oke, Lets Start to Declutter! Getting Organized!

Minggu pertama saya mulai dari baju-baju. Kumpulkan semua baju-baju yang kita miliki di satu tempat, bruk! Ohyess, saya sempat dibuat takjub karenanya. Gilaaa banyak beuuud! Ada beragam baju kaos, warna warni, panjang dan pendek, banyak yang udah kesempitan and ga muat. Next, baju batik! Oh God, banyak banget baju batik yang udah sobek di bagian ketiak atau banyak yang copot kancingnya *Iyeelah secara batik gratisan or seragam. Look at this! Jilbaaab dari berbagai motif, warna dan bentuk, busetttt banyaknya! *well kebanyakan hadiah and dikasih orang sehh. Okey, ada juga nemuin banyak baju resmi seperti blazer, jas, celana kantor, rok, tapi udah lama banget ga pernah dipake lagi. Okayyy, what to do next?

Choose! Does it Spark Joy? If yes, Keep it! If no, Dispose it!

Inget lohh, ga ada maybe-maybe seperti ” ooh kali besok aku kurusan jadi baju ini bisa dipakai lagi, hmm mungkin besok kepake nih pas ada acara resmi”. Tegas dan Ikhlas! Pandangi baju-baju anda, sentuh lagi baju anda dan lipat kembali. Putuskan baju tersebut apakah mau disimpan, dibuang atau didonasikan. Saat memutuskan baju tersebut akan didonasikan atau dibuang jangan lupa sentuh bajunya dan bilang terima kasih atas jasa-jasanya selama ini.

Really, it works!

Beneran lho, setelah memilih kembali baju-baju yang masih kita sukai dan yang akan sering kita pakai, sisanya didonasikan (yang masih bagus) dan yang udah robek-robek parah dibuang atau dijadiin gombal, hati ini rasanya lebih ringan loh! Seriusss, plong aja gituh, cobain sendiri deh kalo ga percaya!

Oya, ini ada tips cara melipat baju juga lho dari Mba Marie Kondo, cara yang dipakai ini bisa menghemat ruang dan juga tenaga. Iyaaa saya banget! Ga usah capek-capek nyetrika, langsung ajah lipat-lipat and masuk lemari 🙂 Praktis dan simpel. Cucok banget buat emak-emak pemalas macam saya, wkkk 😛

Bisa dilihat yah di videonya disinihh

 

Nah ini diee penampakan awal sebelum praktekin metode Konmarie. Untuk baju-baju udah lewat beberapa kali penyortiran yah, cuma yang sempet kefoto satu aja. Buku-buku juga sama, perlu dua sampai tiga kali penyortiran. Hasil akhirnya ada tiga kelompok barang yaitu yang disimpan, dibuang dan dihibahkan. Baju-baju dan jilbab yang masih bagus tapi udah kekecilan dan jarang dipakai saya hibahkan ke para adek-adek sepupu, panti asuhan sama ibu-ibu yang suka ngumpulin sampah yang lewat tiap hari di kompleks. Buku-buku juga sama, saya pilih yang kira-kira ga saya butuhkan lagi *ada lho yang dari pertama beli or fotokopi belum pernah dibuka samsek! Welehhh, jiann saya upload fotonya di facebook dan tawarin ke teman-teman siapa yang mau mengadopsi buku-buku saya tersebut. Alhamdulillah semuanya laku dan sekarang sudah berpindah tangan ke tuannya yang baru. Semoga lebih bermanfaat yah!

Find the hidden treasure

Well, ternyata pas beres-beres kita jadi bisa nemuin barang-barang lama yang udah lama kita cari loh. Misal pas kemarin saya bongkar kardus isi tas dan dompet, eee saya jadi nemu dompet rajut ungu kesayangan saya dulu yang dah lama ketlingsut entah dimana *elus-elus dompet dan tas rajutnya.

Tak perlu beli baru, rawat dan pakailah barang yang lama

Well, bener bangett cobain deh kalau lagi kepengen beli sesuatu yang baru, tahan dulu sampai beberapa hari atau beberapa minggu ke depan. Coba bongkar-bongkar lemari dan lihat-lihat dulu siapa tau ternyata udah punya barang yang hampir sama fungsinya atau sama bentuknya! Nah ternyata pas bongkar-bongkar kemarin saya udah punya beberapa jenis tas, dari backpack, model cangklong, tas kondangan atau tas gendong mini *ini udah disortir beberapa kali sama ibu dan adek saya juga dirumah lama, sisanya tinggal segini. Hayoooh, masih mau beli baru lagee? Perbanyak Istighfar dulu deh mak…hahaha

Jadiiiiii….di pertengahan tahun 2016 ini saya akan menambahkan satu hal untuk jadi resolusi hidup saya. Apa itu? Yap saya akan merubah pola hidup dan pola pikir saya terhadap hal-hal yang berbau konsumtif.

BEING A MINIMALIST!

Yah, pelan-pelan sih yaa, ga langsung ekstrim cuma punya 3 pasang baju, ga punya buku dan ga ada furniture di rumah kayak orang-orang Jepang ituuh. Intinya adalah beberapa komitmen di bawah ini

  1. Hindari belanja-belinji barang yang tidak dibutuhkan
  2. Hanya belanja barang kebutuhan pokok
  3. Sayangi dan rawat barang-barang lama
  4. Tidak kalap mata *kurangi ngemall and online shopping
  5. Rutin menyortir barang-barang di rumah *2 bulan sekali
  6. Hemat
  7. Kurangi makan di luar
  8. Membeli barang yang dibutuhkan  yang benar-benar berkualitas bukan murahan jadi bisa tahan lama
  9. STOP beli dan koleksi tu***rware!
  10. Ga usah liat-liat katalog barang

Walau suami cuma bisa berkomentar sinis “Ah, tenanee” “Hangat-hangat t*i ayam paling”, tapi apa salahnya mencoba ya ga? Namanya juga mau berubah, yang penting ada niat dan laksanakan semampunya.

SEMANGAT MAK!



Copyright 2017. All rights reserved.

Posted August 7, 2016 by intan rawit in category "Just Something Personal", "minimalist", "Mom's diary", "tyding up

83 COMMENTS :

  1. By susunan ulang tahun on

    kalo dirumah saya malah minimalis banget, masak nggak pake gas, tapi masih pake luweng. nyusci masih manual pake tangan. ya masih banyak lagi keminimalisan rumah saya.

    Reply
  2. By triyono saitama on

    mbak kalau seandainya ada tuh barang diskon besar-besaran namun barang tersebut tidak kita butuhkan. apakah kita harus mengambilnya?
    Siapa tahu aja nantinya bisa berguna

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *