.entry-content p { text-align: justify; }
April 28

INILAH 5 MENTAL YANG MEMBUAT KITA SEMAKIN TERGUSUR DI NEGERI SENDIRI

Sebenarnya udah lama saya memendam rasa ingin mengeluarkan opini dan uneg-uneg terkait permasalahan ekspansi para mahasiswa China yang berbondong-bondong datang ke negeri kita untuk belajar bahasa Indonesia. Banyak sekali opini miring tentang hal ini, yang bilang mereka bakal mengancam keberadaan para sarjana lokal, ngurangin lapangan pekerjaan kitalah, dan yang paling ditakutkan adalah kedepan mereka bakal jadi bos-bos perusahaan multinasional China yang nantinya bakal membantu “mengolah’ atau bahasa sadisnya mengeksploitasi Sumber Daya Alam kita. Gajinya jangan ditanya bok, mungkin ga ada seupilnya gaji orang lokal.

Trus di mana posisi tenaga kerja kita??

Kalau sudah begini, siapa mau disalahkan? Pemerintah kita? Pemerintah China? Kebijakan MEA? Internasionalisasi? Atau salahnya Rangga? atau saya sebagai pengajarnya? Jiaahhh

Nah loh, daripada sibuk nyari kambing hitam, mari kita instropeksi dan berkaca. Sebenarnya apa sih yang bikin kita ga maju-maju dan semakin tertindas di negeri sendiri? Yuuuk cekidott….

1. MENTAL TEMPE

Aduhh tempe kan bergizi tinggi ya, enak lagi ya udah deh gw ganti aja jadi MENTAL CORO! Kenapa bisa bilang sadis seperti ini? Iya saya juga ngerasa, kadang kita ga cukup BERANI untuk ambil resiko. Sebenarnya peluang dan kesempatan itu ada, tinggal kita berani ambil ga? Berani rekoso, susah dan prihatin dulu ga? Memang betul mental orang China sudah ditanamkan sejak kecil untuk jadi penjelajah, penguasa ekonomi dunia dan harus mau susah-susah dulu. Nah, kita? Sudah tertanam dari jabang bayi untuk trimo nasib apa adanya, makan ga makan asal kumpul, dsb.

Ini kasus nyata, beberapa waktu lalu ada seorang kawan yang berhasil lolos tembus beasiswa di China, semua sudah diuruskan oleh teman-teman saya yang berada di kampus di China ini. Bayangkan satu bulan dia bisa dapat 3000 yuan atau sekitar 6jutaan. TINGGAL BERANGKAT AJA ke China bo! Akhirnya? BEASISWA GA DIAMBIL! Karena dia berat mempertimbangkan ini itu, alasan keuangan, keluarga, takut ini itu akhirnya dia memutuskan untuk membatalkan beasiswa masternya itu. Owalahh gemeshhh banget ga sih, ratusan orang di luar sana sedang banting tulang berburu beasiswa, eee ini udah dapet ditinggalin. TAU EFEKNYA APA? JATAH ORANG INDO JADI DIKURANGIN! Plus cap jelek Isuk Dele Sore Tempe! Orang kampus dah ribet aja ngurusin pembatalan, balikin uang beasiswa ke pusat, dll. Sorry to say ya buat yang ngerasa, SITU ga banget deh!

Ada juga kemarin saya bantu menguruskan berkas pengurusan students exchange program joint degree 2 tahun di China, semua sudah beres hingga beberapa saat sebelum keberangkatan ada satu anak yang tiba-tiba membatalkan keberangkatannya, padahal tiket udah di tangan bok! Saya tanya baik-baik alasannya kenapa? Ya tidak jauh dari alasan keuangan dan keluarga. Padahal dari awal udah niat banget, persiapannya setahun lho dari belajar bahasa mandarin sampai urus tetek bengek paspor dan visa belajar.

Padahal ya kalau mereka mau, bisa aja ambil resiko pinjam uang di Bank, jual motor, atau nyari bantuan dana ke PEMDA masing-masing. Kalau mau niat insyaallah pasti dimudahkan dan diberikan jalan. Lah ini??Udah KO duluan!

2. GA VISIONER

Kenapa Pemerintah China menerapkan kebijakan untuk mempelajari bahasa-bahasa ASEAN? Karena mereka sudah punya visi jauh ke depan, menggaet negara-negara terdekat dulu dengan menguasai bahasa dan mencetak para penerjemah handal yang bisa menjadi penghubung antar negara. Nah kita? Aduhh masih jalan di tempat terpaku sama Bahasa Inggris! Padahal peluang akan lebih besar jika kita juga mau belajar bahasa Mandarin dan bahasa ASEAN. Tapi ya itu kembali lagi ke visi masing-masing, masih banyak yang memandang rendah belajar bahasa Mandarin, atau lebih tepatnya malas dan tidak ada keinginan. Ngapain?SUSAH BOK! Yaelah padahal ga ada barang yang susah kalau niat dipelajari betul. Padahal beasiswa untuk belajar di China juga bejibun loh, ga perlu bisa bahasa mandarin dulu untuk bisa datang ke sini. Tapi ya itu tadi, banyak yang ga mau menangkap peluang emas ini.

Coba deh bayangin, kalau misalnya kita mau belajar mandarin, masa depan sudah terjamin. Bisa jadi penerjemah, pengajar, tour guide atau bekerja di perusahaan Multinasional yang gajinya bikin ngiler. At least daya saing kita bertambah, ga cuma menguasai bahasa Inggris saja. Mau tau gaji mantan murid China saya yang jadi penerjemah? Satu bulan bisa 30 juta! Ada lagi yang sekarang sudah sukses dan punya perusahaan sendiri, sempat takjub ketika dia traktir kami di resto mahal dan ngabisin 5 juta lebih dan dia ngerasa biasa-biasa aja kayak ngeluarin duit 50rb! Beuuuh bisa dibayangin omsetnya perbulan berapa…

3. KURANG KERJA KERAS

Masih mau nyalahin mahasiswa China? Emangnya mereka gampang gitu belajar bahasa Indonesia? Jangan dikira belajar bahasa Indonesia itu gampang ya, tata bahasanya susahnya minta ampun. Coba bayangin gimana ruwetnya mereka belajar imbuhan, belajar pelafalan huruf ‘r’ yang ga ada di bahasa mereka. Sementara kita masih sibuk mengeluh dan mencari kambing hitam, mereka sedang sibuk menghapal daftar kosakata baru dan mempelajari tata bahasa kita. Langsung ACTION gitu lho gaes.

Trus memangnya mereka semua berasal dari keluarga yang mampu? Eits jangan salah, ada banyak yang berasal dari keluarga pas-pasan bahkan kurang mampu. Tapi semangat untuk belajar dan bertahan hidupnya tinggi. Dengan berbagai cara dia mampu bertahan untuk bisa belajar di Indonesia, mulai dari mengajar di kursus, privat, sampai jadi pemandu wisata untuk orang-orang Tiongkok yang datang ke Indonesia.

Nah, sebenarnya hal itu bisa berlaku juga dong untuk mahasiswa-mahasiswa kita. Misal sudah ada kesempatan untuk belajar di Tiongkok, banyak cara yang bisa dipakai untuk bertahan hidup. Contoh nyata di kampus GXUN ini ada 6 pelajar putri dari Universitas Ahmad Dahlan. Mau tau gimana mereka bertahan? Ada yang jadi penerjemah buku, membantu mengajar, menjadi pengisi suara, jadi penerjemah di EXPO, dll. Dan dari situlah mereka bisa dapat uang yang lumayan, beberapa ada yang bisa untuk bayar uang kuliah dan biaya hidup selama di sini. Ini perempuan lho, masak yang Laki-laki kalah sih??

4. NRIMO dan PASRAH

“Ah udahlah, mungkin emang udah NASIB aku kayak gini, terima aja, sabar”

Aduhhh kasihan sekali si nasib jadi kambing hitam, apa salahnya coba? Nasib dan masa depan tu kita yang menentukan bro! Mau sukses mau ga sukses, semua ada di tangan kita. Tergantung kita aja, mau susah ga, mau ambil resiko ga, mau USAHA ga? Atau terima nasib aja? Nah ini, yang jadi pertanyaan besar. Ga ada kata terlambat bro, kapanpun dan dimanapun kita bisa MERUBAH NASIB kita sendiri dengan doa dan berusaha. Kalau mau dapat lebih ya harus usaha lebih dari orang lain dong. Hari gini masih banyak yang ngarep jadi PNS? Oemjiii, saingannya berapa banyak ciin? Yang udah mengabdi and honorer puluhan tahun udah berbaris ngantri dan banyak yang belum diangkat juga. Masih ngeluh dan curhat nasibku kok gini kok gitu ya, Helooww? TANGI gaes! Bikin terobosan baru dong, dan jangan sekali-kali mengeluh dengan jalan yang telah dipilih. Sementara banyak dari kita yang masih santai-santai dan nrimo dengan nasib, banyak para pekerja dari luar udah menduduki posisi-posisi penting di lapangan pekerjaan kita.

5. SUKA MENGELUH DAN MENCARI ALASAN

Nahh ini die, saya juga ngaku. Kadang dalam mengerjakan sesuatu kurang maksimal, banyak ngeluh dan cari-cari alasan. “Aduuh, ribet banget sih?”, “Wah, kalau gini ya ku ga bisa”, “Bingung nih, gimana ya kok susah banget?” Ngok-ngoook cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semuaaa…eee kok malah nyanyi, wkkk. Cobalah lihat orang Jepang, kalau menghadapi situasi sulit mereka pasti akan bilang “GANBATTE!”, orang China akan bilang “JIAYOU” dan orang Korea akan bilang “FIGHTING!” baik untuk diri sendiri atau teman di sekeliling yang lagi berjuang atau menemui kesulitan. Nah kalau orang Indonesia harusnya bisa bilang “SEMANGAT! PASTI BISA!” gitu kan bisa mengalirkan energi positif, bukannya bilang “ADUH, PIYE IKI??”

So, back to the case, intinya untuk merubah nasib kita ya harus berusaha lebih, kerja keras, mau ambil resiko, jangan mengeluh dan cari alasan. Ayo tingkatkan daya saing kita, jangan mau kalah sama tenaga dari luar negeri. Luar negeri kan perkara lokasi negerinya aja yang beda, kemampuan boleh diadu dong. Kalau mereka bisa kenapa kita nggak?? Jangan Minder kuncinya. Kita anak Indonesia lho bok, harus bangga, berjiwa besar dan berani membuat perubahan.

Boleh dong apresiasinya untuk keenam laskar cantik yang berhasil lulus dari Universitas Kebangsaan Guangxi, China ini. Dengan segala kesukaran dan rintangan, mereka berhasil melewatinya dengan baik. Semoga bisa membawa harum nama Indonesia di kancah Internasional. Selamat wisuda yaa Komala, Putri, Adis, Kiki, Putri, Aisyah dan Ratih! Kami semua bangga padamu, sukses selalu yaaa! Be the agent of change !

CongRaduation!
CongRaduation!


Copyright 2018. All rights reserved.

Posted April 28, 2016 by intan rawit in category "BIPA", "Just Something Personal", "opini

69 COMMENTS :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *