.entry-content p { text-align: justify; }
August 11

Sisi lain dari Sisi

Menarik? silahkan berbagi..

Well, sebenarnya, sejujurnya saya maluuu banget lo ngajar Bahasa Indonesia untuk orang asing! Kenapa? Pertama, kecintaan saya terhadap bahasa Indonesia masih kalah sama orang asing. Kedua, karya-karya atau tulisan murid-murid justru lebih bagus dari saya atau orang Indonesia kebanyakan.

Ga Percaya? Cekidot dehh, ini salah satu tulisan terbaik murid saya  yang bernama QIN XI, nama Indonesianya adalah SISI.

Kenalan dulu yah ama murid saya yang cantik dan pintar berbahasa Indonesia inih

Hai, ini Sisi 🙂

Sisi ini orangnya lucu banget, ya dari postur tubuh dan wajahnya yang mungil dan imut-imut.  Artis Indonesia favoritnya adalah Agnes Monica, coba deh minta dia nyanyiin salah satu lagunya Agnes maka dia akan memukau kita dengan tarikan suaranya yang merdu dan enak didengar. Selain bernyanyi dan menari (dia dancer juga loh!) ternyata dia ini dari kecil ikut taekwondo loh gaes! Jangan salah, walau cantik pintar nyanyi dan nari, dia juga jago loh melayangkan jurus-jurus tendangan taekwondo yang yahudd punya. So, Jangan macam-macam sama Sisi yah! Hehehe

Berikut saya tampilkan tulisan tugas mata kuliah menulisnya yang masih saya simpan selama lebih dari tiga tahun, hihi *untung tugasnya diketik bukan ditulis tangan.

Soo…langsung aja bisa dinikmati hasil karya tulisan Sisi di bawah ini

Malang Tak Dapat Ditolak, Mujur Tak Dapat Diraih

Karya : Qin Xi (Sisi)

(2012-01-08 23:31:43)

     Pada zaman dahulu, di kabupaten Su tinggallah sebuah keluarga yang kaya dan terkenal. Rumah mereka besar dan indah seperti kraton , di dalamnya ada banyak pembantu. Pak Jaya dan Ibu Yanti adalah tuan-tuan keluarga tersebut. Pasangan ini sangat bereputasi di kabupaten Su. Pun bupati menghormati mereka. Dan mereka ada seorang anak perempuan yang terkenal cantik, namanya Najia Wulan. Dia pandai belajar dan main alat musik, Pipa.

   Hanoman, anak lakilaki salah satu pembantu keluarga Wulan yang tua dan setia, pandai bermain silat. Dia selalu mendampingi Najia sejak masa kecil. Pada waktu Najia main Pipa, Hanoman melatihkan silat di sebelah Najia. Hanoman tidak pernah biar Najia digencet oleh anak nakal yang lain. Pada waktu Hanoman berumur 17 tahun dan Najia berumur 14 tahun, mereka berdua sudah saling cintai dangan cara diam-diam, tetapi tak lama kemudian ditemui dan ditentang oleh Pak Jaya dengan langsung. Pak Jaya seperti lebah, mult bawa madu, pantat bawa sengat. Dia mau anak perempuannya menikah dengan anak tunggal laki-laki perdana menteri agar mendapat kekuasaan daerah sekitar kabupatean Su dan lebih banyak uang. Dia akan mengawinkan anak perempuannya secepat mungkin.

   Kemudian, Pak Jaya memutuskan mengawinkan Najia bulan depan begitu dia mengetahui Najia mencintai Hanoman, anak pembantu. Dan dia memerintahkan Najia dikunci di sebuah kamar dan Hanoman diusir dari rumah keluarga Wulan. Bagaikan burung di dalam sangkar, Najia sedih dan marah sekali, dia bahkan mogok makan untuk memprotes. Setelah berpuasa ke-5 hari, Najia sudah sangat lemah. Sebagai seorang ibu, Ibu Yanti sungguh seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul. Jadi, dia sama dengan ayah Hanoman menentukan membantu anaknya melari dengan Hanoman.

   Setelah dibantu orang tua, kedua pemuda mengucap terima kasih sambil menangis karena itu berarti mereka harus berpisah dengan orang tuanya dan menghindar di tempat jauh. Mereka berdua pergi ke sebuah desa yang diletakkan di kaki Emei. Panorama di sana indah sekali, cahayanya terang, pohon tinggi dan hijau dan Najia pikir dia tidak pernah menghirup udaranya sesegar itu.

   Namun, kedua pemuda itu tidak bisa hidup dengan lega hati. Mereka selalu khawatir dan rindu kepada orang tuanya yang pernah membantu mereka. Setelah memikir berulang-ulang, mereka memutuskan Hanoman pergi mengikuti tentara dan berusaha untuk menjadi Jenderal agar pernikahan mereka berdua dapat dibenarkan sepenuhnya.

   Sebelum berangkat, Hanoman bersumpah tidak akan berubah hatinya kepada Najia. Najia pun bilang” jangan lain di bibir, lain di hati ” kepadanya dan juga bersumpah akan menunggu Hanoman selama-lamanya.

   Setelah Hanoman pergi, Najia ada di rumah seorang diri. Dia sangat rindu kepada suaminya dan dia juga tahu, jauh di mata dekat di hati. Setiap pagi dia pergi ke kuil di sekitar dan berdoa untuk suaminya dan orang tuanya. Setiap hari dia berpuasa dan sebelum matahari tenggelam dia sudah naik ke atas gunung, duduk di puncak gunung sambil main Pipa dan mengharapkan suaminya pulang dengan kemenangan. Pun biarawan Buddha yang melihatnya setiap hari terharu hingga mencucurkan air mata.

   Sesudah 12 tahun, perang baru selesai. Dan Hanoman sudah menjadi Jenderal, tetapi dia terpaksa memperistri seorang putri. Jadi setelah 4 tahun lagi, dia baru mendapat kebebasan dan dapat pulang. Dia naik kuda yang tercepat dan langsung menuju ke rumahnya. Namun, di luar lugaan, rumahnya sudah kosong dan hanya tinggal sebuah Pipa yang ada di bawah ranjang yang kosong. Jadi, dia merasa gelisah dan naik kuda lagi dan mencari Najia dan menanya orang lain. Sampai matahari mau tenggelam, dengan usaha sia-sia, dia pulang ke rumah lagi. Tak lama kemudian, datanglah seorang biarawan buddha yang tua dan mau minta makanan kepada Hanoman. Hanoman memberi banyak makanan kepada biarawan tersebut. Dan lalu biarawannya memberitahukan Hanoman bahwa perempuan yang pernah tinggal di sini sudah mati selama 4 tahun karena wabah, masa dia masih hidup dia selalu ke kuil Buddha untuk berdoa dan selalu naik ke pucak gunung kayaknya menunggu seseorang, dan sudah dikuburkan oleh biarawan-biarawan yang pernah diharukan. Mendengar hal tersebut, seperti ada dentuman meriam di otaknya. Kemudian dia mengingatkan kehidupan senang mereka hidup bersama-sama dan hanya diam aja tanpa menangis.

Malang tak dapat di tolak, mujur tak dapat diraih.

Akhirnya, di kuil gunung Emei tambah satu biarawan Buddah lagi, ia setiap hari datang ke depan sebuah makam yang ada di puncak gunung dan membersihkannya serta berdoa dengan lama……

Ending yang sangat sedih ya, hikss *usap air mata

Gimana teman-teman, adakah yang masih ingat dan memakai peribahasa Indonesia? Ayok di share peribahasa apa yang paling diingat sampai sekarang, hehe

Berikut karya Sisi yang lain yang tak kalah bagusnya dengan yang di atas

  Bayangan Belakang

Karya : Qin Xi (Sisi)

(2011-12-04 15:28:26)

     Hari itu, dia akan menjejakkan kaki di atas kereta api yang maju ke kota yang jauh dari kampung halamanku. Matahari sedang tinggi dan udaranya panas. Iya, waktu permulaan semester baru sudah datang. Orang-orang ada di manapun sekitar stasim kereta api. Mereka berlalu lalang. Kereta api datang dan pergi, dan para pedagang menawarkan dagangnya.

    Tanpa disadari, bajunya dibasahi air keringat, anginnya pun panas. Dia berbalik dan melihat ayahnya yang sedang menarik pkopor besar dan menggendong tas yang berat dengan  sudah payah. Lalu dia menuju ke sebelah ayah dan mau menolongnya. Namun, ayah memiringkan badannya dan menghidar dari ?? ditolongi anaknya. Dia pun menurunt maksud ayah.”Inilah kali terakhir ayah menolongmu sebelum kamu meninggalkan rumah pertama kali. Jagalah diri sendiri dengan baik-baik kalau berpisah dengan aku dan ibumu,” kata ayah sambil berjalan-jalan. Dia menganggukkan kepalanya tanpa berbicara sepatah kata pun.

    Tiba-tiba, dia merasa salah dan malu.

    Dahulu, begitu manja dan nakal dia. Dia pernah membolos sekolah dan tidak menyarahkan PR. Demikian ayahnya pernah dipanggil guru-guru ke sekolah. Dia malas, suka makan tidur dan tidak menolong ibunya mengerjakan pekerjaan rumah. Bagaimanapun, orang tuanya selalu mengajarkannya dengan sabar dan jarang memukulnya. Kalau kondisinya tidak baik, orang tua pasti merupakan orang yang tergelisah.

    Sesudah naik kereta api, dia duduk dan melihat ke luar jendela dan mencari bayanga yang diketahui dan dikenalinya. Sampai kereta apinya berangkat, dia bisa mendapat bayangan ayah yang kurus dan kecil. Ayah melambaikan tangan kepadanya lalu berbalik. Dia berjalan dengan pelan-pelan, punggungnya sudah agak bungkuk dan dibasahi keringat. Pada waktu dia mau melewati pagar, dia hampir terjauh. Tetapi dia masih berdiri dengan mantap. Lalu dia berbalik lagi dan melihat anaknya dan tersenyum kepadanya.

    Begitu dia melihat keadaan tersebut, matanya diliputi mata air. “Senantiasanya, yang paling mencintaiku pasti orang tuaku,” dia pikir. Dia merenung dan merasa berutang budi kepada ayahnya dan berdaya upaya untuk membalas budi.

Tak terasa, tiga tahun sudah berlalu semenjak saya mengajarnya. Sekarang Sisi tentunya bertambah dewasa, cantik dan semakin lihai bahasa Indonesianya. Dia bekerja di salah satu perusahaan multinasional di Jakarta. Semoga kalau ada kesempatan kita bisa berjumpa lagi yah Sisi! Saya merindukanmu 🙂



Copyright 2017. All rights reserved.

Posted August 11, 2015 by intan rawit in category "Beasiswa", "BIPA", "Darmasiswa", "My students

4 COMMENTS :

  1. By VPS Coupon on

    Kalau melihat murid-muridnya mba Intan yang pintar2 saya juga ingin jadi pengajar bahasa Indonesia hihihi…

    Reply
  2. By Kuka on

    Wow berapa lama Sisi belajar bahasa Indonesia bisa nulis seperti ini? Salut untuk mentornya 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *