.entry-content p { text-align: justify; }
July 19

Variasi Bahasa (Language Variation)

Menarik? silahkan berbagi..

Intan Rawit Sapanti

12/339581/PSA/07324


  1. Apa yang dimaksud dengan variasi bahasa?

Bahasa memiliki dua aspek mendasar yaitu bentuk baik berupa bunyi dan tulisan, maupun struknya, dan makna baik makna leksikal maupun fungsional dan struktural. Penggunaan bahasa tersebut dapat bervariasi baik dari segi pengucapan, leksikal, keadaan sosial, pemakaian, kondisi geografis, tingkat keformalan, kelompok sosial, dll. Berikut merupakan beberapa rangkuman tentang pengertian variasi bahasa/ragam bahasa dan menjelaskan variasi bahasa berdasarkan penutur, pemakaian dan tingkat keformalannya.

Pengertian Variasi Bahasa

Bahasa sebagai sebuah sistem yang dipahami sama oleh semua penutur bahasa, namun karena penutur bahasa tersebut meskipun terdapat dalam masyarakat tutur tidak merupakan kumpulan manusia yang homogen. Maka wujud bahasa yang konkret, yang disebut parole, menjadi tidak seragam. Ada dua pandangan mengenai variasi atau ragam bahasa, pertama variasi atau ragam bahasa dilihat sebagai akibat adanya keberagaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi atau ragam bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyrakat yang beraneka ragam.

Chaer & Agustina 2010 membedakan variasi atau ragam bahasa berdasarkan penutur dan penggunaannya. Berdasarkan penuturnya berarti siapa yang menggunakan bahasa itu, dimana tempat tinggalnya, bagaimana kedudukan sosialnya dalam masyarakat, apa jenis kelaminnya, dan kapan bahasa itu digunakan. Berdasarkan penggunaanya berarti bahasa itu digunakan untuk apa, dalam bidang apa, apa jalur dan alatnya, dan bagaimana situasi keformalannya.

Holmes 1994 juga membedakan variasi bahasa yang merefleksikan penuturnya dan penggunaannya. Berdasarkan penuturnya, variasi bahasa terbagi menjadi variasi regional dan dialek sosial, jenis kelamin dan umur, etnis dan jaringan sosial serta perubahan bahasa. Sedangkan variasi bahasa berdasarkan penggunaannya terbagi menjadi gaya bahasa, konteks, dan register. Fungsinya dalam komunikasi lintar budaya, kesopanan, dan stereotypes.

Hudson 1980 menegaskan bahwa studi mengenai kajian keragaman bahasa merupakan bagian yang terpenting dalam sosiolinguistik. Hal ini disebabkan karena sosiolinguistik berhubungan dengan faktor-faktor sosial. Bahasa beragam dari satu tempat ke tempat lain, dari satu grup sosial ke group yang lain dan dari situasi satu ke situasi yang lain.

 Variasi bahasa berdasarkan penuturnya

a. Idiolek : merupakan variasi bahasa yang bersifat perseorangan

b. Dialek : merupakan variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, berada pada satu tempat, wilayah, atau area tertentu.

c. Kronolek (dialek temporal) : merupakan variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu

d. Sosiolek (dialek sosial) : Sosiolek merupakan variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan dan kelas sosial para penuturnya

Variasi bahasa berkenaan dengan tingkat, golongan, status dan kelas sosial para penuturnya

a. Akrolek : Akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi dan lebih bergengsi daripada variasi sosial lainnya.

b. Basilek :adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi, atau bahkan dipandang rendah

c. Vulgar adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pemakaian bahasa oleh mereka yang kurang terpelajar, atau dari kalangan yang tidak berpendidikan.

d. Slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia. Artinya, variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas, dan tidak boleh diketahui oleh kalangan di luar kelompok itu.

e. Kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari.

f. Jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok-kelompok sosial tertentu

g. Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas pada profesi-profesi tertentu dan bersifat rahasia. Letak kekhususan argot adalah pada kosakata

h. Ken (Cant) adalah variasi sosial tertentu yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek dan penuh dengan kepura-puraan

Variasi dari segi pemakaian.

         Variasi bahasa berkenaan dengan penggunaan, pemakaiannya atau fungsinya disebut fungsiolek, ragam dan register. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya atau tingkat keformalan dan sarana penggunaan.

Variasi dari segi keformalannya.

Martin Joos 1967 dalam bukunya the Five Clock membagi variasi bahasa atas lima macam gaya yaitu ragam beku (frozen), gaya atau ragam resmi (formal), gaya atau ragam usaha (konsultatif), gaya atau ragam bahasa santai (casual), dan gaya atau ragam akrab (intimate)

Berilah  Contoh salah satu wujud variasi bahasa, lalu terangkan ciri-ciri fonologis, morfologis, sintaksis, dan leksikonnya

Salah satu contoh dari variasi bahasa adalah bahasa gaul atau kolokuial atau bahasa prokem yang marak digunakan pada anak muda masa sekarang. Adapun leksikon yang sering dipakai adalah ciyus, miapah, lebay, cemungudh. Dibawah ini penulis akan mencoba mendeskripsikan ciri-ciri fonologis melalui proses perubahan bunyi yang dialami oleh leksikon-leksikon bahasa gaul tersebut. Kemudian ciri-ciri morfologis yang terdiri dari derivasi zero, reduplikasi,afiksasi abreviasi (pemendekan), komposisi (perpaduan) dan derivasi balik.

Keterangan: Bahasa gaul (Bg), bahasa Standar (Bs)

a. Ciyus [ciyuz]

Ciri Fonologis yang berasal dari kata serius [serius] memiliki beberapa kaidah perubahan fonologis. Pertama,  fonem Bs *s > /c/ Bg. Dimana fonem /s/ pada Bs berubah menjadi fonem konsonan /c/. Hal ini dikarenakan adanya proses lenisi atau pelemahan bunyi konsonan. Dimana fonem /s/ yang merupakan hambat alveolar dianggap lebih kuat daripada fonem /c/ yang merupakan bunyi tak bersuara palatal. Kedua, proses penguatan  bunyi vokal (fortition) juga terjadi pada fonem Bs /e > /i/ Bg. Dimana fonem vokal /e/ pada Bs yang merupakan vokal depan tengah menguat menjadi fonem /i/ Bg vokal depan tinggi. Ketiga, fonem konsonan Bs /r/ > /y/ Bg. Dimana fonem lateral /r/ Bs melemah menjadi bunyi semi vokal /y/ pada Bg. Ciri-ciri morfologisnya bahasa gaul biasanya hanya berupa morfem bebas yang tidak terikat sehingga bisa digunakan dan berdiri sendiri

b. Miapah

Ciri Fonologis :yang memiliki arti sebenarnya ‘demi apa’ juga mengalami proses perubahan fonologis dari bentuk standarnya ‘demi apa’. Proses fonologis yang terjadi adalah proses disimilasi atau penyederhanaan bunyi dengan menghilangkan fonem pada suatu kata. Dalam hal ini fonem/d/ dan /e/ pada Bs mengalami proses Aphaeresis yaitu penghilangan fonem konsonan pada awal suku kata. Sehingga Bs ‘Demi’ > ‘mi’ Bg. Proses disimilasi yang terjadi berikutnya adalah proses substitusi atau penambahan konsonan dengan kaidah Bs /F/ >/h/ Bg. Kaidah ini menunjukkan adanya penambahan bunyi /h/ pada akhir kalimat. Sehingga terbentuklah kata miapah yang merupakan turunan kata dari ‘demi apa’ dalam bahasa formal.

Ciri Morfologis : terjadi proses reduksi dari bentuk awal dari bahasa standar ‘demi apa’ menjadi ‘miapah’ dalam bahasa gaul

  c.  ‘Lebay’

Ciri fonologis Kaidah berikutnya adalah : Bs ‘berlebihan’ > ‘lebay’ Bg. Dapat dilihat dari data tersebut bahwa telah terjadi proses disimilasi yaitu penghilangan konfiks ber-an pada bahasa gaul. Selanjutnya terjadi perubahan fonem vokal /i/ Bs > /ay/ Bg, terjadilah proses diftongisasi atau perubahan vokal monoftong menjadi gugus vokal atau diftong. Ciri Morfologis pada kata ini mengalami reduksi pada konfiks ber-an dari bahasa standar ‘berlebihan’ menjadi lebay pada bahasa gaul.

  d. Cemungudh

Bs ‘semangat’ > ‘cemungudh’ Bg. Terjadi perubahan bunyi konsonan Bs /s/ > /c/ Bg yang dicurigai mengalami proses pelemahan konsonan atau lenisi. Kemudian terjadi proses asimilasi progresif dimana vokal Bs /a-a/ > /u-u/ pada Bg. Kaidah perubahan berikutnya  adalah fortisi yaitu penguatan bunyi dimana fonem konsonan Bs /t/ > /d/ Bg. Dimana bunyi /t/ merupakan konsonan tak bersuara menjadi fonem interdental bersuara /d/ Bs

Semoga bermanfaat, jangan lupa cantumkan sumbernya ya kalau mau mengutip tulisan ini 🙂

Ditulis oleh Intan Rawit Sapanti, 2013



Copyright 2017. All rights reserved.

Posted July 19, 2014 by intan rawit in category "I'm a Linguist", "Intan Publication", "Linguistik Dasar", "Linguistik for Dummies", "Sosiolinguistik

7 COMMENTS :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *