.entry-content p { text-align: justify; }
July 14

Who We Are to Judge?

Menarik? silahkan berbagi..

Sepertinya gampang banget bagi kita (tertutama saya)  untuk menghakimi atau men’judge’ seseorang hanya dari penampilang fisik atau luarnya. Jika seseorang terlihat glamour, modis, blink-blink selalu memakai barang-barang mahal dan bermerk maka yang terlintas di kepala ini adalah ‘hmmm pasti anak orang kaya nih’, ‘wah pasti sukanya habisin duit ortunya yang borju aja ni anak’ atau berbagai asumsi negatif lainnya.

Kali ini saya mendapat pelajaran yang berharga dari murid saya. Sebut saja namanya bunga ^_^ , jangan ditanya tentang penampilan dan gaya fashionya. Selalu uptodate,lihat saja keaktifannya dalam menguplod foto2 selfie ataupun berbagai pose dengan latar belakang tempat wisata atau tempat makan yang sudah sangat wah untuk kalangan mahasiswa.

sampai suatu hari, disela-sela kegiatan belajar dia bercerita tentang kehidupan pribadi dan keluarganya.

Broken home

Tak dinyana ternyata dibalik keceriannya dia adalah anak broken home. Ibunya sudah berpisah dengan ayahnya sejak waktu lama bahkan ayahnya sampai sekarang tidak pernah sekalipun memberi nafkah, menengok bahkan sekedar menanyakan kabar dia,adik dan ibunya pun tidak. Perpisahan itu meninggalkan hutang yang sangat banyak hingga mencapai ratusan juta rupiah.

Persisss seperti skenario di sinetron-sinetron!

Omaigat, miris banget bayanginnya. Dalam kondisi pailit dan terbelit hutang itu memaksa ibu beranak itu banting tulang siang malam tak kenal waktu. Bunga bercerita waktu itu sehabis sekolah dan ibunya sehabis pulang bekerja mereka bersama-sama bekerja sebagai pengeruk pasir sampai malam, tak jarang sampai dini hari. Begitulah hari-hari mereka habiskan sebagai pengeruk pasir, entah berapa tahun lamanya  sampai akhirnya utang-utang itupun lunas.

Prahara tak berhenti sampai disini saja!

Setelah bangkit dari keterpurukan, sang Ibu pun mencoba menekuni bisnis batu bara dan akhirnya sukses hingga keluarga mereka pun berkecukupan kembali. Ternyata kondisi ini, membuat para kumbang kembali mengerumuni sang Ibu, hingga akhirnya menjatuhkan pilihan pada salah satu kumbang tersebut. Namun, angan dan harapan akan rumah tangga yang harmonis pun kandas lagi.

Lagi-lagi disakiti dan dimanfaatkan!

Ketauan belangnya bahwa si ayah tiri ini tidak tulus mencintai si Ibu dan anak-anaknya, hanya hartalah yang menjadi tujuan utama. Sempat ibu beranak ini saling membenci karena hasutan si ayah tiri. Bunga tak lagi dihiraukan, diacuhkan oleh si Ibu. Bahkan si Bunga ini harus mencari nafkah sendiri membanting tulang sebagai buruh batu bara ketika libur kuliah. Sampai akhirnya si ibu tahu dan  sadar bahwa dirinya hanya diperalat dan dijauhkan dari anaknya.

Begitulah, bahtera rumah tangga pun kandas. Tak hanya sekali, kegagalan ini berulang sampai dua kali.

Bunga, yang dari penampilan luar ceria dan penuh warna ternyata menyimpan segudang cerita. Banyak pelajaran yang bisa kita petik darinya, karena tak banyak anak sepertinya bisa berdiri kokoh dan menantang kerasnya takdir dan suratan hidup dariNya.

‘Aku harus jadi orang sukses bu!’ ujar Bunga. “Ini semua demi mamaku, aku ingin mamaku bahagia dan bangga melihatku” lanjutnya.

Lanjutkan perjuanganmu, Nak! Semesta mendukungmu 🙂



Copyright 2017. All rights reserved.

Posted July 14, 2014 by intan rawit in category "Just Something Personal", "Mom's diary", "Perjalananku

4 COMMENTS :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *