.entry-content p { text-align: justify; }
May 29

The Refugee Ship

Menarik? silahkan berbagi..

Pernah mendengar atau melihat berita di TV mengenai kisah para pencari suaka?

Di TV kita banyak melihat para pencari suaka tersebut mempertaruhkan hidup matinya menyebrangi lautan ganas dengan perahu kayu kecil untuk mendapatkan perlindungan dan hak hidup. Sebagian besar hidup mereka terancam di negara asalnya, entah karena perang, konflik maupun kasus pelanggaran berat. Di Indonesia saja, saat ini tercatat sampai dengan akhir Maret 2014, sebanyak 7,218 pencari suaka terdaftar di UNHCR Jakarta secara kumulatif, dan sebagian besar dari mereka berasal dari Afghanistan (44%), Iran (14%) dan Myanmar (8%).

Dalam proses pengungsian yang biasanya lewat laut dan samudra, tak sedikit para pencari suaka yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak tersebut terenggut nyawa dan hidupnya karena keganasan ombak dan cuaca ekstrim sewaktu pelayaran menuju negara tujuan.

You never know how it feels, until it happens to you!

Quote diatas bener banget man! Dulu saya ga pernah terlintas sedikitpun rasa empati, ketakutan dan kesedihan yang dirasakan para pengungsi dan pencari suaka tersebut, sampai saya dan keluarga serta beberapa teman-teman mengalaminya sendiri! Ya Allah…memang antara hidup dan mati dipertaruhkan di lautan dan samudra yang ganas, hanya pasrah dan berserah diri pada Tuhan sajalah yang bisa kita lakukan di kapal kecil yang terombang-ambing di lautan lepas  🙁 🙁

Jadi ceritanya kemarin kami berenam, saya, uways, mas manda, mas Nick, Ina, Beti dan Widya berencana pergi ke Karimunjawa. Setelah 6 jam perjalanan via travel dari Jogja akhirnya sampailah kami di pelabuhan Kartini, Jepara pada pukul 4 pagi hari. Kamipun langsung mengantri tiket di depan loket yang ternyata sudah dibooking orang (orangnya benar-benar tidur di depan loket!). Kami masih tak menaruh curiga dan prasangka terhadap orang-orang tersebut, sampai akhirnya waktu loket dibuka pukul 6 pagi langsung ludesss hanya dibeli segelintir orang-orang tadi! Ohmaigoat, kebayang ga sih sebelnya pas banget giliran kami untuk beli tiket ferry, ee loketnya langsung ditutup! CLOSED! TIKET HABIS!

Whatttt????

This is soooo unbelieveable! Tadi memang lihat satu orang bisa pegang segepok tiket, entah berapa puluh or bahkan berapa ratus! Ga mungkin banget kan untuk feri dengan kapasitas ribuan orang masak tiketnya langsung ludess diborong sama orang yang jumlahnya ga ada dua puluh orang?

Sudah pasti, tidak lain dan tidak bukan mereka adalah oknum-oknum CALO! The most annoying person in the world, huh nyebelin banget asli! Harusnya pihak ASDP juga membatasi dong pembelian tiket, ada batas maksimalnya 10 tiket kek or berapalah jadi bisa dicegah praktek-praktek kagak bener ini.

Akhirnyaaaa, kamipun galau jaya antara mau lanjut or pulang kandang. Opsi pulang tampaknya ga banget yah, ibarat kalah sebelum bertanding. Setelah luntang lantung ga karuan di sekitaran pelabuhan, kami banyak menemui orang-orang yang ga kebagian tiket, curhat sana sini. Eee pucuk dicinta ulam pun tiba, ada seorang mas-mas nawarin kita2 yang ga kebagian tiket buat carter kapal kayu milik nelayan. Totalnya 6 juta tapi dibagi untuk 40 orang. Kita sih masih mikir pasti kapalnya aman dan agak gede ya untuk ngangkut 40 orang. Tanpa banyak pertimbangan, opsi itu pun kita ambil!

Setelah menunggu sampai jam dua siang, rombongan kami beserta rombongan lain yang ga kebagian tiket (ada juga yang udah transfer duit ke agen tapi ga dapet tiket juga, aneh kan!) menuju pintu dermaga. Tak lama terlihat kapal tongkang kami berlabuh, ada yang heran dan kaget setengah protes juga, kok kapalnya gini mas? Hah segini muat 40 orang to? Ya ampun mana kapalnya kecil, tak bertutup lagi, serius nihh??

Satu jam pertama, para penumpang masih cerah ceria, ada yang bercanda ria, dengerin musik, foto2, bahkan ada yang masih sempet uplod foto dan status di fesbuknyah!

Happy faces, holla!

Dua jam berikutnya, keceriaan di wajah penumpang nampaknya sudah mulai sirna. Wajah pucat, pusing dan gelisah pun sudah terlihat.

Tiga jam perjalanan, mulai terdengar suara hoek-hoek dan dek kapal pun sudah penuh oleh hasil jackpot para penumpang, bau amis mulai merebak!

Tiga jam berikutnya adalah NIGHTMARE! Langit mulai gelap, ombak semakin besar mengombang-ambingkan kapal kami. Tak ada radio, tak ada security devices, jaket pelampung kami pun sudah aus entah bisa berfungsi dengan baik atau tidak jika kami sampai tenggelam. Tak ada yang tahu dan peduli jika kami hanyut dan hilang ditelan ombak.

the refugee ship - dah pada teler semua!

Ya Allahhhh….lindungilah kami ya Allah….

Lantunan doa dan ayat-ayat suci Al-Quran tak lepas dari bibirku, sambil mendekap si kecil dan berusaha memejamkan mata untuk mengurangi mual.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, daaaaan akhirnya ada kelap-kelip di seberang sana, si bapak perahu bilang sebentar lagi akan sampai! Alhamdulillaaaaahirobilalaminn…sujud syukur ya Allah!

Walaupun kelap-kelip lampu pulau Karimunjawa sudah mulai nampak, tetapi tetap saja masih butuh waktu 1 jam untuk mencapainya. Tak apalah!

Enam jam yang sungguh bermakna

Enam jam yang membuat kami merenungkan tentang kerasnya kehidupan

Enam jam yang menyadarkan kami tentang ketakutan dan penderitaan para refugee

Enam jam yang mengingatkan kami untuk selalu bersyukur atas nikmat hidup

Enam jam yang membukakan mata kami atas kuasa dan  kebesaran-Mu Ya Allah

Allahu Akbar!



Copyright 2017. All rights reserved.

Posted May 29, 2014 by intan rawit in category "Jalan Jalan", "Just Something Personal", "Karimun Escape", "Perjalananku

1 COMMENTS :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *