.entry-content p { text-align: justify; }
August 18

Long Journey

“Ma, kayaknya tiket qt ilang deh” ujarku panik sambil mengobrak-abrik isi tas kecilku.

Entah nyelip dimana dua buah tiket bis seharga 65 RM itu, aduuuuh mahal sekali kalau harus beli lagi. Orang-orang sekitarpun sudah duduk manis di dalam bis menuju Hatyai, Thailand. Melihat wajah kami yang tegang, kondekturpun menegur kami. Lalu dengan muka memelas kami minta apakah boleh kami naik?tapi tiket kami hilang di jalan. Dengan tegas tapi pasti bapaknya bilang “Tak ada tiket, tak boleh bagi naik” lalu berlalu begitu saja.

Terlintas ingatan beberapa tahun lalu saat hendak menuju pulau Nusa Tenggara Barat, baru sampai di terminal Ubud, Bali. Bis yang kutumpangi tiba-tiba nurunin kami dengan paksa, alasannya kami harus ganti bis ke Bima, NTB yang mana datangnya baru subuh. Walhasil saya harus menunggu di pos polisi terminal Ubud semalaman sambil jadi sasaran pesta si penghisap darah nyamuk-nyamuk ganas, untung aja ga dikerjain sama preman-preman terminal.

Haduuuh….apa kali ini kejadian itu terulang lagi??Tidaaakk…ini di negeri orang cuy, ntar kalau ada apa-apa gimana??

Di tengah kegentingan dan kepanikan, seorang bapak yang mengantar anaknya pergi kuliah pun menghampiri kami. “Ada apa dek?” tanyanya, setelah curhat dengan muka memelas dengan sigap dia menawarkan beberapa solusi, ‘ayo ikut saya’ ujarnya. Akupun bergegas mengikuti jejaknya, asma standby menjaga koper-koper dan bawaan kami.  Ya sudah dalam hatiku kalau harus beli tiket baru tak apalah, resiko dan kesalahanku. Setelah naik ke lantai ketiga, sampailah kami di konter bis dan menanyakan solusinya. Bisa tidak diprintkan lagi atau diberi tanda bukti apa karena tiketnya hilang, karena pasti sudah tercatat di komputer agen bis tersebut pikirku. Namun tetap tak bisa, Pak Komarudin menasehatiku kalau sampai harus beli tiket baru mending tiket besok pagi saja, karena malam ini semua macet “Jam Teruk” akibat semua orang kembali mudik ke Kuala Lumpur. Istrihat dulu malam ini cari hotel yang murah-murah, besok baru berangkat. Baiklah aku sependapat dengan pakcik Komar. Uang 100 RM pun melayang untuk mengganti dua tiket yang hilang itu.

MAU NGIRIT malah NGOROT!

Ceritanya tu pengen hemat ke Thailandnya ngebis, cuma 50 ringgit eee ternyata harus keluar duit 100 ringgit lagi (ganti tiket asma juga) aw aw bener-bener deh kalo ditotal malah lebih mahal dari tiket pesawat KL-Hadyai. Jadi ingat bapakku selalu bilang “Kadang Pemborosan adalah pengiritan yang maha irit!”

“Ga papa mba, kita istrahat dulu supaya besok bisa segar di jalan” Asma menghiburku

Aaaa pemborosan iniiih, harusnya ga keluar duit ee harus bayar ekstra buat tiket dan juga bayar hotel nanti. Tapi ya sudahlah, nasi sudah jadi bubur. Daripada nginep di terminal kan ga banget, hehe akhirnya dengan langkah terseok-seok menggeret koper yang super berat kami pun menemukan hostel sederhana persis di seberang terminal Puduraya. Hotel Backpacker Inn, hotel yang sama seperti pencarianku di internet beberapa hari sebelumnya. Oke lah kita stay disini semalam. Harganya lumayan murah untuk sharing room dengan fan kami cuma bayar 35 RM berdua (setelah berdebat panjang kali lebar minta diskon ke orang India pemilik hostel akhirnya dikurangin 5 ringgit, lumayan lah ya sesuatu banget). Tapi bathroomnya diluar lho yaa..hehe. Jadi ga sah kaget kalau lagi cuci muka di washtafel ee tiba-tiba keluar orang bule or orang India cuma pake handuk doang wkkk.

Istirahat sebentar dan cuci muka, kami pun bermaksud keluar dan jalan-jalan untuk melihat menara kembar Petronas di malam hari. Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam, pemilik hostel bilang tak bisa lihat lagi karena sudah dimatikan lampunya lagian LRT yang kesana sudah tak ada jam 10 sudah berhenti beroperasi. Yaaaah kecewa deh, ya sudah berhubung sudah rapi jali gapapa deh main keluar cari makan. Tapiiiiii pas sampai di depan pintu hostel ternyata di luar hujan turun dengan deras. Alamakjang…apesnyaa hari ini. Untung awak bawa payung dari rumah. Hihi akhirnya kita jalan ke depan untuk cari makan. Ketemu juga sama warung India halal buka 24 jam, ada wifi lagi.

Keesokan paginya, setelah sarapan nasi lemak telor (3.5 RM) dan menyeruput segelas teh tarik hangat ( 1.2 RM) kami pun standy di stasiun Puduraya menanti bis yang akan membawa kami melintasi perbatasan Malaysia Thailand. Ternyata benar, bisnya tepat waktu! Tak ada lagi jam teruk seperti yang diperkirakan pakcik Komar. Pukul 9.30 tepat bus (mereka menyebutnya ‘bas’) mulai melaju meninggalkan Puduraya atau stasiun Pudu Sentral. Diperkirakan kami akan sampai 6 jam kemudian.

Setelah transit sekali untuk makan pada pukul 12.00, kami pun melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 3 pm sampailah kami ke daerah perbatasan dan semuanya diminta turun untuk menunjukkan paspor dan nanti dicap oleh imigrasi Malaysia. Baru beberapa saat kami bis melaju, semua penumpang pun diminta turun lagi untuk pemeriksaan imigrasi Thailand. Kulihat cap di pasporku, ijin tinggal yang diberikan hanya 2 minggu maksimal.

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore dan terlihat kami sudah memasuki kota Hatyai, Thailand. Kota kecil ini mengingatkanku pada salah satu kota di Klaten, hehe. Satu hal yang tidak berubah dari Thailand adalah ruwetnya kabel listrik, sudah pendek, awut-awutan menjulur kemana-mana. Aman ga sih? jangan-jangan bisa kesetrum lagi kalo kepegang. Hiii…

Hal menarik kedua waktu kuperhatikan sepeda motornya, dari 10 motor ada 9 motor yang depan stangnya dikasih keranjang. Hahaa..lucuu juga ya jadi bisa taro barang belanjaan macam sayur or barang lain di keranjangnya. Hihi..

Finnaly…sampai juga di Thailand Selatan.

mana tomyaaam…manaaa….sakau dot com



Copyright 2018. All rights reserved.

Posted August 18, 2013 by intan rawit in category "Jalan Jalan", "Just Something Personal

6 COMMENTS :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *