.entry-content p { text-align: justify; }
April 29

Being a Super Mom!

Menarik? silahkan berbagi..

Bismillah…

Kali ini saya ingin berpartisipasi dalam GA  ‘First Give Away Jurnal Evi Indrawanto’ , walau ini bukan kali pertama saya ikut-ikutan GA, hihi emang sih lom sedahsyat emak-emak blogger lain yang hebat dalam menulis sehingga sering menyabet gelar ratu kontes beserta hadiah-hadiahnya *hihi ngarep.com. Sekedar meramaikan perhelatan GA sebagai penggembira ga papa kan? Hehe.

Baiklah kali ini saya akan mengulas salah satu postingan yang saya sukai di Jurnal Evi Indrawanto yang berjudul Apakah Saya Sudah Menjadi Ibu yang baik? Hmm sebagai ibu yang juga bekerja dan sekarang disambi kuliah, menjadi ibu yang baik bukanlah semudah membalik telapak tangan. Melakukan tiga pekerjaan dan tanggung jawab besar dalam sekali waktu sekaligus bukanlah hal yang mudah. Tapi tetap saja tidak ada hil yang mustahal eh hal yang mustahil. Ya kan mak? Apa salahnya jika kita mencoba…

Kodrat dan Kewajiban seorang Ibu

Kodrat seorang wanita adalah menjadi seorang ibu untuk anak keturunannya, sebagai istri atas tanggung jawabnya terhadap suaminya, dan sebagai wakil pemimpin di dalam rumah tanggal, pengganti sementara peran suami saat suami dalam bertugas mencari nafkah. Namun dalam budaya Patriarki seperti yang terdapat dalam budaya Indonesia sering menempatkan wanita atau perempuan sebagai seks kelas dua setelah pria yang mempunyai peran sentral dalam keluarga.

Pembagian pekerjaan dalam keluarga pun masih didasarkan pada gender, seringnya seorang anak perempuan yang mendapat beban pekerjaan rumah tangga yang lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Maskulinitas masih tampak kental dalam pola pengasuhan anak dewasa ini, sehingga pada ranah keluarga seorang perempuan dituntut untuk dapat mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga yang seharusnya dapat dikerjakan oleh kedua belah pihak baik istri maupun suami.

Seiring dengan kemajuan zaman, gerakan emansipasi yang diusung oleh kaum feminis terus bergulir. Kesetaraan hak antara wanita dan pria dituntut dalam segala hal baik hal baik dalam memperoleh pendidikan, hak mengeluarkan pendapat, hak berpolitik dan hak mendapatkan pekerjaan yang layak. Hasilnya saat ini sudah baecnyak sekali perempuan yang berkiprah dalam dunia kesehatan, politik, ekonomi, pendidikan, hukum dan lain-lain.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul apakah setelah wanita mendapatkan hak-haknya tersebut dia harus menomorduakan keluarga dan mendahulukan karir sebagai prioritas pertama? Jawaban pastinya adalah TIDAK. Wanita harus tetap mendahulukan keluarga sebagai prioritas pertama karena disitulah peran dan tugas penting seorang wanita untuk tetap mendidik anak, mengurus rumah tangga. Sehingga seorang wanita yang sudah memilih untuk bekerja harus bisa membatasi dan mengukur kemampuan fisik dan psikisnya agar bisa membagi waktu dengan baik antara karir dan keluarga.

Kondisi ideal yang diharapkan adalah seorang ibu yang bekerja harus dapat membagi waktunya dengan baik sehingga dapat melaksanakan tugas pekerjaannya di luar rumah sebaik dengan tugasnya di dalam rumah. Berikut akan dibahas fakta-fakta real tentang permasalahan yang muncul bagi seorang ‘working mom

 Problematika Working Mom

Kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki yang didapat wanita  ternyata masih juga menimbulkan masalah yang baru. Bagaimana agar seorang wanita yang menjadi ibu bisa membagi waktunya dengan baik? Sementara masalah-masalah seperti dibawah ini akan muncul setiap harinya

1)      Waktu, tenaga dan  pikiran yang terkuras

Mengurus anak, bekerja dan kuliah adalah tiga hal yang sangat menguras tenaga seorang wanita, apalagi jika dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Bisa dibayangkan ketika atasan menuntut deadline pekerjaan kita, di saat yang bersamaan tugas kuliah harus segera dikumpulkan dan anak meminta waktu dan perhatian kita untuk bermain. Apa yang harus dilakukan?

2)      Anak terlantar

Ketika seorang ibu memutuskan untuk keluar rumah dan bekerja, otomatis dia akan meninggalkan anaknya selama beberapa jam dalam sehari. Oleh karena itu seorang ibu harus menitipkan anak kepada orang yang dipercaya untuk merawat anaknya selama ditinggal, apakah di tempat penitipan anak atau memasrahkannya kepada keluarga atau baby sitter. Sementara ibu tidak mengetahui kondisi anak ketika ditinggalkan. Apakah ini sama saja dengan menelantarkan anak?

3)      Pekerjaan rumah tangga terbengkalai

Sepertiga waktu dalam sehari sudah digunakan diluar untuk bekerja dan kuliah, kondisi tubuh dan pikiran sudah capek ketika pulang. Tak ayal lagi, ketika pulang ke rumah hanya terpikir untuk beristirahat saja dan mengabaikan kondisi rumah yang berantakan.

4)      Suami tidak terurus

Salahpaham dan cekcok dengan suami sering terjadi ketika komunikasi antara keduanya tidak berjalan baik karena dipengaruhi kondisi fisik yang sama-sama lelah dan stress setelah seharian bekerja diluar rumah.

5)      Pilihan antara keluarga, kuliah atau kantor

Pada suatu saat seorang ibu yang bekerja akan dihadapkan pada pilihan keluarga, kuliah atau pekerjaan kantor. Ketika sang anak sakit dan disaat yang sama ada tugas penting dari atasan atau tugas kuliah yang harus segera dikumpulkan. Mana yang akan dipilih?

6)      Stress

Tekanan dan tuntutan dari luar terkadang memberikan beban yang tidak sedikit bagi seorang wanita yang akhirnya berujung kepada stress dan beban mental.

 Alternatif Solusi

Marilah kita belajar menjadi seorang ibu yang super yang dapat menempatkan dirinya dengan baik dalam keluarga maupun karir.

1)      Buat Skala Prioritas

Sebelum terjun ke dunia karir, hendaknya buatlah komitmen dan janji terhadap diri sendiri tentang skala prioritas yang harus dianut. Harus kita tanamkan bahwa keluarga harus tetap menjadi yang pertama dan utama dalam kondisi apapun. Sehingga ketika dihadapkan pada pilihan yang sulit, tidak bimbang lagi untuk memilih mana yang menjadi prioritas kita.

2)      Managemen waktu

Buatlah managemen waktu dan perencanaan kegiatan dengan baik. Misalnya untuk pekerjaan rumah tangga sebaiknya dikerjakan secara bertahap, misal mencuci bisa dikerjakan setiap hari, memasak bisa dilakukan pada malam hari, menyetrika bisa diserahkan kepada laundry kiloan, beres-beres rumah bisa dilakukan mingguan pada hari libur. Pembagian tugas dengan suami juga sangat disarankan, jadi tidak semua beban pekerjaan rumah tangga dibebankan kepada sang ibu. Untuk pekerjaan di kantor  bisa dibuat note atau to do list setiap pagi jadi bisa fokus dan dapat mengukur seberapa banyak pekerjaan yang bisa dilakukan pada hari tersebut. Sedangkan untuk mengerjakan tugas kuliah bisa dikerjakan setelah anak-anak dan suami tertidur.

3)      Managemen ASIP untuk balita

Siapa bilang ibu bekerja tidak dapat memberikan ASI X untuk anaknya? Dengan managemen ASI perah yang baik, kebutuhan anak akan asi eksklusif selama 6 bulan dapat terpenuhi. Jadi ketika harus meninggalkan anak yang masih membutuhkan asi tidak menjadi masalah.

4)      Quality time dengan keluarga

Buatlah waktu yang terbatas dalam keluarga menjadi waktu yang berkualitas. Singkirkan segala macam gadget, media elektronik dan hal-hal yang dapat mengganggu lainnya. Bisa dibuat aktivitas bersama yang melibatkan ayah, ibu dan anak misalnya menggambar bersama, bermain bola, petak umpet, dsb.

5)      Tugas kuliah diselesaikan secara bertahap

Tugas kuliah dapat diselesaikan dengan baik dengan adanya perencanaan yang baik. Buatlah list hal-hal yang harus dikerjakan untuk mencicil tugas-tugas tersebut. Namun terkadang memang dibutuhkan tenaga yang ekstra ketika UTS atau UAS tiba, bergadang atau belajar ngebut semalam menjadi hal yang wajar.

6)      Menyediakan waktu untuk diri sendiri

Me time atau waktu untuk diri sendiri adalah hal yang sangat penting. Tidak harus dilakukan dalam waktu yang lama. Kita bisa melakukan hal-hal yang disukai ketika kondisi kita jenuh dan capek. Misalnya berendam dan mandi air hangat, shopping, pergi ke salon atau menonton drama. Disarankan kepada ibu yang bekerja agar dapat beristirahat dulu setelah pulang kantor agar dapat kembali fresh saat harus kembali mengasuh anak dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya.

7)      Olahraga

Kegiatan ini sangat penting dilakukan untuk menjaga kesehatan tubuh seorang ibu. Bisa dibayangkan ketika ibu sakit maka semua pekerjaan akan terbengkalai, jadi sebaiknya buatlah jadwal rutin untuk berolahraga baik secara pribadi atau bisa bersama keluarga. Misalnya berenang, jogging, fitness, dll.

8)      Refreshing secara periodik

Stress dan lelah psikis lainnya bisa diatasi dengan cara melakukan refreshing, melakukan sesuatu yang baru, berkunjung ke tempat yang baru, membaca buku, atau melakukan hal yang disukai lainnya. Agar tubuh dan pikiran yang lelah dapat segar kembali.

Demikian paparan kali ini, semoga bermanfaat bagi para ibu maupun calon ibu yang berniat menjadi seorang ibu yang super!

Semangat dan yakin kita pasti bisa!

Salam Super untuk ibu yang Super!

First GA Jurnal Evi Indrawanto

 artikel ini diikutsertakan dalam First GA Jurnal Evi Indrawanto



Copyright 2017. All rights reserved.

Posted April 29, 2013 by intan rawit in category "Baby Uways", "Kontes Blog & GA", "Mom's diary", "Perjalananku

20 COMMENTS :

  1. By Evi on

    Jadi ibu masa kini, diakui maupun tidak, emang agak berat Mbak Intan. Tugas domestik menanti dan tugas publik menghimbau, membuat waktu seakan terbelah..Tapi ya begitu lah, tiap jaman punya tantangan sendiri untuk peran ibu.

    Terima kasih sudah turut meramaikan GA saya Mbak. Aku catat ya 🙂

    Reply
  2. By Lozz Akbar on

    Menjadi wanita karir sah-sah saja ya mbak, asal keluarga harus tetap menjadi numero uno dalam hal perhatian..

    terima kasih sudah menyemarakkan GA mbak Evi.. sudah tercatat sebagai peserta.

    sukses sebagai Super Mom mbak Intan 🙂

    Reply
    1. By intan rawit (Post author) on

      @uncle lozz :yupp sepakat hrs selalu mendahulukan keluarga…sama² mas sukses utk GAnya yaaa

      Reply
  3. By enny on

    Menjadi ibu bukanlah peranan yang gampang ya mbak. Sungguh postingannya banyak memberi manfaat. Salam kenal…sukses di GAnya mbak Evi ya

    Reply
    1. By intan rawit (Post author) on

      @mb enni : salam kenalk jg y mba terimakasih sdh berkunjung d sni. Bener mb hrs pintar dan bijak yah kl jd ibu

      Reply
  4. By Oyen on

    satu hal yang musti disadari, tugas seorang Ibu sangat berat, karena punyak amanah terberat yaitu anak. Yang membuat berat bukan mengantarkan anak sukses dunia, kalo yg ini saya yakin banyak ibu yang mampu, namun amanah yang dikatakan berat adalah mengantarkan sukses sang anak di akhirat kelak, itulah mengapa menjadi Ibu harus menempatkan perhatian utama dan pertama untuk anak, suami dan keluarga, karena Allah memerintahkan kita untuk membawa keluarga menjauhi api neraka. Saya tidak setuju tentang konsep keseimbangan, seimbang antara dirumah dan pekrjaan, buat saya rumah dan keluarga adalah yang pertama dan utama, baru yang lain mengikuti, jadi memang tidak seimbang, karena porsi keluarga harus lebih besar, bukan justru di waktu sisa.

    itu pendapat Oyen, yang lain bisa berbeda. Apa kabar Uways?

    Reply
  5. By Triunt on

    Saya sendiri masih dilema, lebih bagus mana kedua orang tua sibuk mencari nafkah untuk masa depan anak, atau mengalah salah satu untuk fokus mendidik anak.
    Masih cari contoh hasil nyata dari 2 kondisi di atas.

    Reply
  6. By Zizy Damanik on

    Saya setuju banget bahwa refreshing secara periodik itu memang perlu banget……. biar suasana hati pun terjaga… 🙂

    Reply
  7. By Mugniar on

    Wow lengkap sekali penjelasannya di tulisan mbak. Semoga semuanya ter-manage dengan baik (haduh bahasa apa itu?)

    Moga sukses GAnya. Pengumumannya besok ya?

    Reply
  8. By Mugniar on

    Wow lengkap sekali penjelasannya di tulisan mbak. Semoga semuanya ter-manage dengan baik (haduh bahasa apa itu?) 🙂

    Moga sukses GAnya. Pengumumannya besok ya?

    Reply
    1. By intan rawit (Post author) on

      @Mugniar : wah masih kalah jauh sama tulisan mba, hihi…selamat ya mba menang GAnya juga 🙂 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *