.entry-content p { text-align: justify; }
October 5

Rumpun Bahasa

Nama : Intan Rawit Sapanti

NIM : 12/339581/PSA/07324

Mata Kuliah : Linguistik Historis Komparatif

Ringkasan Bab 50 & Bab 51 Ensyclopedia of Language

BAB 50 RUMPUN BAHASA

Berawal dari anggapan bahwa semua bahasa di dunia ini memiliki hubungan, ilmu pengetahuan dan para ilmuan mencoba untuk menguak sejarah dari bahasa-bahasa yang ada di dunia ini dimulai dari akhir abad ke 18. Para peneliti mulai menganalisa dan membandingkan sejumlah grup bahasa dengan cara yang sistematik dan detail untuk membuktikan ada tidaknya keterkaitan diantara mereka. Jika hal tersebut dapat dibuktikan maka dapat dikatan bahwa semua bahasa-bahasa di dunia ini berasal dari induk yang sama, meskipun bahasa tersebut telah punah.

Bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa bahasa Prancis, Spanyol, Italia dan bahasa-bahasa Rumania lain merupakan turunan dari bahasa Latin. Pada awal abad ke 19, terdapat bukti yang kuat yang mendukung hipotesis tentang induk dari semua bahasa-bahasa Eurasia diturunkan, yang disebut PROTO-INDO-EUROPIAN.

Konsep dalam rumpun bahasa, atau pohon keluarga digunakan untuk menjelaskan hubungan historis diantara bahasa-bahasa yang ada. Misalnya: Bahasa Latin adalah bahasa ‘orang tua’ sedangkan bahasa Prancis, Spanyol, Latin, Yunani, Sansekerta, dan lainnya merupakan bahasa ‘anak’

Sejak abad ke 19, istilah ‘keluarga/family’ masih digunakan sebagai istilah umum yang menerangkan adanya kemungkinan hubungan historis. Tetapi dalam beberapa klasifikasi, perbedaan digambarkan untuk menerangkan bagaimana kejelasan hubungan antar bahasa tersebut. Jika ada bukti linguistik yang konkrit tentang kedekatan hubungannya, maka istilah ‘keluarga/family’ dapat terus digunakan. Namun saat hubungannya kurang jelas atau semakin kabur, pengelompokan lebih disebut dengan istilah ‘FILUM’. Terkadang istilah ‘Makro Filum ‘ digunakan untuk menyebutkan pengelompokan yang lebih umum dan yang kurang jelas hubungannya. Sebagai contoh adalah bahasa Aborigin di Australia.

METODE KOMPARATIF

Metode komparatif dalam ilmu linguistik historis merupakan sebuah cara yang sistematis dalam membandingkan sejumlah bahasa dengan tujuan untuk membuktikan kesamaan historis diantara bahasa-bahasa tersebut. Para ilmuwan memulai dengan mengidentifikasi sejumlah kesamaan formal dan juga perbedaan di antara sejumlah bahasa-bahasa kemudian merekonstruksi kembali. Sebuah proses awal dari pengembangan dimana semua bentuk telah diturunkan. Proses ini dikenal dengan sebutan “rekonstruksi internal’. Pada saat bahasa-bahasa tersebut terbukti memiliki nenek moyang yang sama, maka bisa dikatakan bahasa tersebut adalah “KOGNAT” atau seasal.

Contoh :

Turunan kata dalam bahasa Latin : pater ke dalam bahasa-bahasa ‘anak’ lainnya

TIPE-TIPE KLASIFIKASI LINGUISTIK

  1. Klasifikasi Genetik

    Klasifikasi historis ini didasarkan pada asumsi bahwa semua bahasa itu sejatinya diturunkan dari nenek moyang yang sama. Bukti yang digunakan adalah bukti tertulis, dan dedukti baru digunakan saat kekurangan bukti-bukti tertulis tersebut. Selain kesuksesannya dalam menganalisis bahasa Eurasia, metode ini tidak cocok digunakan di belahan dunia lain dimana pengklasifikasian bahasa ke dalam hubungan kekerabatan yang biasanya hanya bersifat sementara.

  2. Klasifikasi Tipologis

    Klasifikasi ini didasarkan pada perbandingan persamaan formal yang ada diantara bahasa-bahasa. Hal ini digunakan untuk mencoba mengelompokkan bahasa ke dalam tipe struktural, dengan dasar fonologis, grammar atau kosakatanya.

 Tipologi yang pertama, dimana disusun berdasarkan bidang morfologi yang dikemukakan oleh August Von Schlegel pada awal abad ke 19, menyatakan 3 tipe linguistik utama, dengan dasar sebuah bahasa menyusun kata-katanya.

a. Isolasi, analitis atau akar bahasa

Semua kata tidak berubah-ubah atau tetap; hubungan gramatikal yang tiada berakhir yang ditunjukkan dalam susunan kata dalam kalimat. Misalnya bahasa China, Vietnam, dan Samoan merupakan contoh yang jelas.

b. Infleksi, sintetik, atau bahasa fusional (Peleburan)

Hubungan gramatikal diekspresikan dalam perbubahan struktur internal kata, biasanya dengan penggunaan akhiran inflesional yang menyatakan makna gramatikal. Contoh : bahasa Latin, Yunani dan Bahasa Arab.

c. Aglutinasi (terpadu) atau bahasa yang merekatkan/ Agglutinative or agglutinating languages

 Kata-kata disusun dari susunan unit yang panjang, dimana setiap unit mengekspresikan makna grammatikal tertentu, contoh : Bahasa Turki, Finlandia, Jepang dan swahili membentuk kata dengan cara ini.

d. Polisintetik atau pembentukan bahasa / Polysynthetic or incorporating languages

Kata sering tersusun dengan struktur yang panjang dan kompleks yang mengandung percampuran antara aglusinasi dan bentuk infleksi, seperti dalam bahasa Eskimo, Mohawk dan bahasa-bahasa di benua Australia.

PERMASALAHAN DALAM PENGKLASIFIKASIAN

 Pada masa ini, pertanyaan-pertanyaan tipologis merupakan minat yang tidak diragukan lagi, terutama dalam hubungan pencarian bahasa universal. Namun beberapa klasifikasi awal telah dikritisi sepenuhnya. Harus diakui bahwa tidak ada bahasa yang ‘murni’ berasal dari bahasa lain, karena sejatinya kita harus mengakui adanya perbedaan budaya dan etnis yang ada dalam grup tersebut yang menyebabkan bahasanya memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan kelompok lain.

 Baik klasifikasi tipologis dan genetis keduanya mengacuhkan relevansi budaya diantara bahasa-bahasa yang ada. Kenyataan bahwa setiap bahasa selalu mempengaruhi bahasa lainnya karena adanya kontak, peminjaman kata satu sama lain. Terkadang, bahasa-bahasa yang tidak memiliki relasi historis pun bisa bertemu.

Sumber : THE CAMBRIDGE ENCYCLOPEDIA of LANGUAGE by David Crystal



Copyright 2018. All rights reserved.

Posted October 5, 2012 by intan rawit in category "I'm a Linguist", "Jaman Mahasiswa", "Perjalananku

3 COMMENTS :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *