.entry-content p { text-align: justify; }
July 2

Ikutan Aksi, Kenapa Kacang?

Selasa, 27 Mei 2008

 

AKSI…..?WHY NOT..??!!

 

Actually, duluu banget sebelum saya masuk dalam jajaran Badan Eksekutif Universitas Ahmad Dahlan dan masih berprofesi sebagai debater (alah) saya adalah mahasiswa yang paling anti sama yang namanya aksi alias demo yang dilakukan oleh mahasiswa.

Soalnya saya berpikir cara itu tu bener2 ga intelektual banget, teriak-teriak ga didengerin, panas pula, belum lagi kalo ada tindakan anarkis kayak disemprot gas air mata atau jadi sasaran bogem pak polisi atau korban bom molotov..waaaah pokoknya ENGGAK BANGET DEH!

Menurut saya (dulu, duluuuu sekali) sebenarnya ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh mahasiswa untuk menyuarakan hati nurani rakyat, untuk showing care kepada rakyat kecil yang didzholimi samapemerintah kita, atau sekedar membahas kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah untuk rakyatnya yang rata-rata tidak berpihak pada mereka namun kepada investor asing.

Well, kita kan masih bisa melakukan tindakan-tindakan yang positif kayak diskusi dengan pakar, ngikut seminar-seminar yang bahas masalah tersebut, debat tentang hot issues yang terjadi di negeri kita,

Melakukan hal yang nyata  kayak bikin tulisan, karya ilmiah, dan mencari prestasi tentunya.Itu yang saya lakukan dulu untuk menunjukkan bahwa saya ini care sama persoalan-persoalan bangsa kita.

Bahkan awal masuk dalam kepengurusan BEM Universitas juga saya paling ogah diajak demo, pasti saya ngabur or ngeles dengan berjuta alasan. Soalnya saya mikir demo itu useless dan ga penting banget.

But, see..semenjak BEM UAD mengadakan pelatihan kader bangsa, disitu saya jadi tau sedikit-sedikit tentang teori-teori advokasi dan propaganda juga mendapatkan pengalaman pertama saya ikut demo. Dari situ saya tau sebenernya banyak banget cara kita mengadvokasi sesuatu

Kayak misalnya nih, foto, video, poster, pamflet, buku, media massa, umbul2 dan masih banyak lainnya. Jadi emang ga cuma demo doang. Demo itu the last priority kalo cara-cara tersebut dah ga mempan alias kurang menggigit.

Jadi pada intinya advokasi adalah cara-cara yang dilakukan untuk membela kaum tertindas dan untuk menuju ke arah situ kan kita ga bisa sendirian. Kita harus menggugah hati nurani orang lain untuk ikut berjuang dan merasakan penderitaan kaum tertindas tersebut. (hee…Pak Pres mohon dikoreksi kalo ada yang salah)

 

Nah. sekarang konteksnya demo dan mahasiswa.

Banyak sekali temen-temen mahasiswa penganut sekte anti demo..(hee kayak saya dulu) di kampus saya ini. Rata-rata mikirnya hampir persis yang saya pikir dulu. Yang anarkis lah, useless, lebih mentingin kuliah lah, cem macem pokoknya.

Tapi gini ya temen-temenku penganut sekte anti demonstrasi…..

Kita ini kan kaum mahasiswa yang lekat dengan intelektualisme, moralisme, nasionalisme, dan isme2 yang lain yang konotasinya bagus tentunya. Intinya kita ini adalah calon-calon pemimpin bangsa ini di masa depan yang diharapkan memiliki intelektual yang tinggi, bermoral dan berhati nurani (ga kayak koruptor2 tentunya) dan juga memiliki nasionalisme yang tinggi pula terhadap bangsa. Jadi di tangan kita inilah nantinya bangsa ini. Apakah akan menjadi sebuah welfare state atau menjadi sebuah failedcountry alias negara gagal, itu ditentukan oleh kita, kaum pemuda, kaum mahasiswa!!!

 

Apa jadinya negara ini kalo kaum intelektual alias kaum mahasiswa ini hanya duduk manis di bangku kuliah ndengerin ceramah dosen dan sama sekali tidak perduli dengan rakyat miskin yang sedang tertindas saat ini karena kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat!

 

Well, before I explain my argument, I’d like to clarify first about apatisme kaum mahasiswa diatas.

Pertama, kaum mahasiswa ini adalah pengikut aliran egoisme dan hedonisme. Jadi mereka ga mau mikir apa penderitaan rakyat-rakyat miskin soalnya emang mereka ga ada masalah. kayak misal kenaikan BBM ini, mereka bakalan biasa-biasa aja walaupun harga bensin jadi Rp 6.000 seliter. Soalnya itu ga ngefek buat mereka, toh mau dinaikin berapa aja mereka masih bisa beli. Duit tinggal minta gini.

Sama sekali ga terlintas di benak mereka, bagaimana susahnya sodara-sodara kita yang hidup di bawah garis kemiskinan ga bisa lagi beli beras, susu buat anak-anaknya, minyak goreng, minyak tanah karena harganya tiba-tiba meroket gara-gara susidi BBM dicabut

(catatan:sebelum diumumkan secara resmi aja Beras,dan sembako lain di pasaran udah naek, apalagi sekarang??). Yah kurang ngerti juga teori ekonominya gimana, kok bisa segitu dahsyatnya pengaruh kenaikan BBm terhadap harga2 sembako itu.

Eniwei,As long as government policy ini ga ngefek or kasih detrimental efek ke mereka ya that’s fine,,no problemo..

Apalagi demo?wah jadi urutan keseratus kali ya, or malah ga ada sama sekali..hehehe

Biasanya kehidupan mereka hanya berkutat sama kuliah, shopping di mall, pacaran, jalan-jalan, hang out with their friends,etc..

 

Tipe kedua adalah mahasiswa yang mendewakan kuliah (istilah kerennya study oriented), pokoknya urusan lain bakalan jadi nomor sekian deh. Ga ada dalam kamus mereka tu bolos kuliah, nongkrong-nongkrong ga jelas, apalagi buat demo? IIHHHHH GAAAA BANGEEEEEEEEEEEt DEH!

pokoknya belajar-belajar dan belajar….!Target IPK cum laude yang harus dicapai kalo perlu summa cum laude alias ip 4 harus didapet (wah ini saya banget tuh! (^_^). Gabung ma organisasipun mereka masih mikir2 seribu kali soalny ntar kan takut ganggu kuliahlah, ntar ipx menurunlah, capek, ga da waktu buat belajar, cem macem wis..

nah, mahasiswa studi oriented ini sebenernya mereka tau banget atas kondisi bangsa ini (mungkin sering nonton berita di tv) cuma mereka mikirnya untuk apa saya mikirin hal-hal kayak gitu, kan udah ada orang lain yang ngurusin, tugas saya cuma belajar, belajar dan menuntut ilmu. That’s all.. belum masanya deh ikut campur yang kayak gituan.

 

Well. tipe ketiga ini masih mending sodara-sodara. Mereka tu bener-bener mahasiswa sejati pokoknya. Urusan kuliah dan Organisasi bisa seimbang. Aktivis kampus, ikut kegiatan ini itu (kayak saya, hehe). Pokoknya ga ada waktu buat santai-santai, adaaa aja kegiatannya rapat inilah, rapat itulah..mereka juga care banget terhadap masalah-masalah bangsa, sering banget tipe mahasiswa kayak gini tu diskusidan berdebat dengan ilmiahnya untuk mencari solusi-solusi atas masalah tersebut…. tapi kalo diajak demo..heeeee ntar dulu deeeh..

mikir-mikir dulu, dianalisis dalem banget cost and benefitnya apa, ujung-ujungnya males ikutan demo..ga nemu dimana sisi benefitnya soalnya.

 

Oke deh temen-temen penganut sekte anti demo…let’s flash back first in 1998 when kaum mahasiswa berhasil menggulingkan rezim Suharto (almarhum)alias rezim orde baru dan mengukir sejarah dengan menancapkan bendera reformasi di negeri kita ini. Kemenangan tersebut membuktikan bahwa mahasiswa bukan hanya seseorang yang intelek tapi seseorang yang mau memperjuangkan hak-hak rakyat kecil. Hal itu juga membuktikan bahwa masih ada pihak yang membela rakyat-rakyat kecil..(buruh, petani, pak becak, dll). MAHASISWA ADALAH AGENT OF CHANGE AND AGENT OF CONTROL…

artinya mahasiswa adalah agent pembaharu dan agen kontrol. Jadi kita sebenarnya yang harus menyuarakan ketika ada ketidakadilan, ketika ada

penindasan yang dilakukan oleh pemerintah. jadi suara mahasiswa adalah mekanisme kontrol bagi pemerintah.

 

Masalahnya kalo bukan mahasiswa, siapa lagi? pak polisi? Anggota Dewan? atau malah departemen Pendidikan? haaaa ga lucu kan..

Mereka tidak lagi obyektif dalam mengambil kebijakan atau mengevaluasinya soalnya ada political interest mereka disana. Ga mungkin banget kan..

Jadi emang harus ada pihak lain yang bener-bener netral, tidak ditunggangi political interest apapun dan murni berpihak kepada rakyat..

Nah inilah jadi tugas kaum mahasiswa.

 

Emang harus demo? kenapa ga pake cara laen?

Well, menurut kaum mahasiswa penganut sekte pro aksi mereka berpendapat bahwa ini adalah cara yang paling efektif untuk menyuarakan aspirasi.

Ya of course ga pake anarkis-anarkis donk kayak lempar2 batu or bom molotov. Damai……Pisss…kita pake cara-cara intelektual dong.

Misalnya lewat mediasi dengan pihak terkait. jadi kita berdialog dengan pihak-pihak tersebut kayak misal anggota DPR, Direktur Pertamina, Direktur Bank BI, dsb. Jadi mekanismenya kita orasi di depan kantor tertentu or tempat2 yang strategis trus berorasi menyuarakan tuntutan kita yang salah satunya misal minta ketemu dengan salah satu atasan. Biasanya sih pihak yang diajak berdialog itu keluar dan memenuhi tuntutan kami.

Kemudian pake aksi treatikal yang nyentrik..nah tujuannya apa, biar aksi dan aspirasi kami tu di rilis di media massa or elektronik.

Pokoknya bakalan banyak banget wartawan media cetak maupun elektronik yang datang buat ngeliput dan jeprat-jepret aksi kita. Nah kalo gitu kan aspirasi kita bakal didenger oleh orang banyak (termasuk pak SBY)…gitcuuu….

 

(Catatan kecil sewaktu jadi mahasiswa)

 



Copyright 2019. All rights reserved.

Posted July 2, 2012 by intan rawit in category "Jaman Mahasiswa", "Just Something Personal", "Perjalananku

1 COMMENTS :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *