.entry-content p { text-align: justify; }
May 22

Minggu Ceria di Monumen Jogja Kembali

Kalau ditanya orang, ‘Rumahnya mana?’, ngakunya sih deket sama Monjali tapi kalau ditanya sudah pernah masuk ke Monjali belum?Jawabannya sih udah tapi duluuuuuuuu banget waktu piknik SD, hahha…ketauan banget ya ga perhatian dengan museum sejarah Indonesia ini.

Nah, biar ga malu-maluin amat, akhirnya kita sekeluarga sepakat untuk bertamasya ke museum Monjali (Monumen Jogja Kembali) yang terletak di Ring Road Utara Yogyakarta hari Minggu kemarin.

Museum yang berbentuk tumpeng ini sekarang ini juga udah tambah keren dengan kehadiran TAMAN LAMPION yang bukanya malam hari. Sumpe deh keren abisss, asik buat foto-foto bareng pacar atau keluarga. Banyak banget lampion warna-warni beraneka rupa, sayang sekali saya pergi kesana waktu siang jadi kurang seru aja.

di depan gate Lampion Park
Bunga Sakura
two zebras
two zebras

Mengenang Kembali Sejarah Perebutan Yogyakarta di Monumen Jogja Kembali

Monumen yang dibangun pada tanggal 29 Juni 1985 ini merupakan tonggak sejarah untuk mengenang kembali ditarik mundurnya pasukan Belanda dari Ibukota Yogyakarta yang membuat Kembalinya Jogja ke tangan RI dan juga mengenang kembalinya Presiden Sukarno, Wakil Presiden Hatta, dan beberapa petinggi negara lain ke Yogyakarta setelah diasingkan di Sumatera.

Jogja Kembali.

Tumpeng Monjali

Monumen yang berbentuk kerucut setinggi 31, 8 meter ini sekilas mirip banget yak ama tumpeng? Tapi ada juga yang bilang bentuknya merupakan simbol gunung. Menurut filosofi Jawa bentuk tumpeng atau gunung ini melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Monumen yang seluruh bangunannya dikelilingi kolam air ini terdiri dari 3 lantai.

Di lantai pertama, terdapat 4 ruang museum yang memamerkan koleksi-koleksi benda sejarah berupa: foto, dokumen, realia, replika, berbagai jenis sejata, bentuk dapur umum yang kesemuanya menggambarkan suasana perang kemerdekaan tahun 1945-1949.

Di lantai 2 bagian dinding paling luar yang melindungi tubuh monumen, kita bisa menikmati 40 buah Relief Perjuangan Phisik dan Diplomasi perjuangan Bangsa Indonesia sejak 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949.

Nah, selesai muterin relief di bagian luar, saatnya masuk ke bagian dalam lantai dua. Kesan pertama agak merinding sih, horor gitu kesannya soalnya emang sengaja dibikin gelap supaya diorama-diorama yang ada di dalam kaca  kelihatan lebih hidup dengan lampu redup di dalamnya. Total diorama ada 10 dan semuanya menggambarkan perjuangan fisik dan juga diplomasi bangsa Indonesia sejak  19 Desember 1948 hingga 17 Agustus 1949. Mirip banget lah sama orang beneran!

Mengintai musuh *Uways ikutan gerilya!
Serangan Umum 11 Maret
Ikutan Upacara Proklamasi
Perjanjian Roem Roeyen

Sebenarnya masih banyak foto-foto dioramanya, tapi sayang kok bermasalah terus ya waktu aku upload. duh blogger gaptek ya gini nasibnya, haha.  Kesepuluh diorama itu benar-benar disusun berdasarkan kronologis waktu dan juga disertai penjelasan di depannya, jadi bisa membuat pengunjung bisa memahami urutan kejadian yang sebenarnya. Betapa Jenderal Soedirman dengan kondisi kesehatan yang sangat lemah dan paru-paru yang tinggal sebelah tetap ikut berjuang dengan bergerilya.

Menjelang diorama terakhir kita bisa melihat akhir dari perjuangan panjang dan melelahkan bangsa dimana akhirnya tentara Belanda ditarik dari Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan Sri Sultan HB IX bertindak selaku koordinator keamanan yang mengawasi jalannya penarikan pasukan tersebut dan diakhiri dengan adanya Persetujuan Roem-Royen pada tanggal 7 Mei 1949.
Yok kita naik ke lantai 3!

Disini adalah ruang hening yang digunakan untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur dalam pertempuran ini. Di tengah-tengahnya ada bendera Merah Putih dan di dinding bagian atas bisa dilihat gambar-gambar bambu runcing, tangan-tangan mengepal yang menggambarkan perjuangan waktu itu. Tapi bukannya untuk mengheningkan cipta mengenang jasa-jasa pahlawan, ruangan ni malah buat foto-fotoan sama bercandaan, soalnya suara kita bisa bergaung sih di ruangan ini jadi pengunjung malah pada main-main disini. Termasuk yang nulis blog ini sama anaknya, hehe 🙂

Ruang Hening

Oke deh cukup sekian jalan-jalan hari Minggu ini. Tips postingan kali ini adalah ga perlu jauh-jauh buat refreshing atau jalan-jalan, buka mata buka telinga, pasti banyak sekali obyek wisata di sekitar kita yang layak dikunjungi tanpa banyak mengeluarkan biaya. Oya hampir kelupaan, tiket masuk di Monjali ini Rp 7.500/orang. Murah kaaan? Tapi kalau mau nyoba wahana-wahana yang ada ya harus rogoh kocek lagi, per wahana sekitar Rp 10.000.

Gimana dengan weekend teman-teman kali ini?



Copyright 2019. All rights reserved.

Posted May 22, 2012 by intan rawit in category "Jalan Jalan

8 COMMENTS :

  1. By Lidya on

    aku belum pernah ke monjail 🙂 kirain tadi monjail itu apa

    [WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us ‘0 which is not a hashcash value.

    Reply
    1. By intan rawit (Post author) on

      biasanya buat piknik anak2 sekolah mba kalo ke Jogja, hihi..mba lidya stay dimana e?

      Reply
  2. By Oyen on

    Assalamualaikum kakak Uways… idiihhh… jalan-jalan niee.. semoga kelak juga bisa jadi pahlawan kehidupan yang kisahnya tak usang ditelan jaman, bermanfaat untuk umat dan menjadi bagian dari orang2 yang antri ke jannahNya… aamiin…

    Reply
    1. By intan rawit (Post author) on

      @Tante Oyen : Walaikumsalam dek fira cantik..amiin semoga dek fira juga menjadi pahlawan bagi ayah ibu, bangsa dan agama. Amiiin..

      @bibi teliti : Hihihi…iyah mbak, jalan2 yang murah meriah ajah, habis itu pulang baru beli bakso, hoho..wah kayla sama fathir tongkrongannya mah di mall terus yah, xixi

      Reply
  3. By Bibi Titi Teliti on

    Intaaaaaan…
    keren sekali dek Uways inih, kecil kecil udah jalan jalan ke museum…*langsung merasa bersalah kepada ke 2 anakku*

    Murah juga yah main2 di museum, daripada nge mall…
    *sedang ngomong ama diri sendiri*…hihihi..

    Reply
  4. By marsudiyanto on

    Saya malah cuman lewat2 saja, belum pernah masuk Monjali…
    Padahal saya selama setahun setengah pernah seminggu dua kali lewat Monjali…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *