.entry-content p { text-align: justify; }
April 20

My first pregnancy

31 Maret 2011

Allahu Akbar..allahu akbar…asyhadu anna illaha illalah ….

Sayup-sayup terdengar adzan subuh berkumandang, mataku yang masih terpejam lelap masih saja tak mau membuka kelopaknya, empuknya bantal dan hangatnya selimutku seakan tak mau kutanggalkan. Badanpun hanya bergeliat geliut malas di kasur yang nyaman ini sampai sebuah belaian sayang membelai pipi dan wajahku yang masih terlelap.

“Sayang..bangun..subuh-subuh, sholat yuk?’

“Hmmmmmmmm….” gumaman dan gerutu tak jelas keluar dari mulutku.

“Sayangggg…bangun yuuk?” Kali ini diusapkanlah tangannya yang basah oleh air wudhu itu wajahku membuatku terkesiap dan tersadar dari mimpi yang membuaiku.

“Iya, iya” ujarku seraya menggeliat dan membuka kelopak mataku sambil menguap lebar.

Tampak di depanku seorang lelaki tampan bersarung, berkopiah dan berbaju koko siap untuk sembahyang subuh menantiku. Deg! Saat kesadaranku belum pulih benar, kadang aku terkesiap dan kaget melihat sosok itu. Sosok yang selalu kulihat saat aku buka mataku di pagi hari. Laki-laki yang selalu sabar membangunkanku dengan cara-cara yang halus dan romantis untuk bersembahyang. Siapa gerangankah dia? Usapan dingin itu pun kembali membelai wajahku.

Dan seketika kesadaranku pun terkumpul, mataku pun terbuka lebar Ah, ternyata dia adalah suamiku! Baru tersadar bahwa aku tak sendiri lagi, melewati malam-malam dan subuhku. Sudah ada seseorang yang selalu setia mendengarkan cerita dan ocehanku setiap saat. Dan ada seseorang yang kelak akan menjadi ayah dari anak-anakku.

Dan tiba-tiba aku tersadar oleh kenyataan lain saat suamiku mengelus-elus perutku dengan sentuhan lembut dan kasih sayang sembari berkata “Assalamualaikum adik kecil, masih bobo ya di dalam sana? Bangun yuk, sholat bareng ayah dan ibu” Ucapnya sembari mengecup malaikat kecil kami yang sudah 26 minggu berada di rahimku.

Senyum pun merekah di wajahku, menyadari betapa beruntungnya aku bisa menikmati indahnya menjadi seorang wanita. Melalui hari-hari menanti kehadiran si kecil di dampingi suami tercinta setelah beberapa saat kami sempat terpisah benua dan samudera.

8 Oktober 2010

“Maaaaaass! Buruan, telat ntar nih..!” teriakku sembari menata barang-barang dan koper yang akan kubawa.

“Iya,iya, santai dong. Sarapan dulu ya dinda sayang..” Ujarnya lembut

Akhirnya saya pun setuju untuk sarapan meskipun hati sudah gelisah melihat jam yang semakin cepat berdetak padahal jadwal keberangkatan pesawat Jogja-Jakarta-Guangzhou saya adalah pukul 6.30, dan saya seharusnya harus sudah berada dibandara Adi Sucipto untuk check in. Tapi entah kenapa jam segini saya masih saja belum siap.

Sarapan pun kami lakukan seperti biasanya, penuh dengan canda tawa dan saling bertukar pikiran. Rasanya tak rela saya meninggalkan laki-laki yang baru saja menikahi saya sebulan lalu, 13 September untuk menunaikan kewajibanku di negeri Tirai Bambu, menuntut ilmu dan mengajar Bahasa Indonesia di sana. Waktupun berjalan begitu cepat, jam dinding sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi hari, waktunya berangkat ke bandara!

Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Nampaknya saya ditakdirkan untuk tidak meninggalkan suami saya sendirian. Ternyata perkiraan kami meleset jauh, butuh waktu lama untuk mengatur barang-barang dan dua koper jumbo saya di atas motor bebek kami, saking banyaknya. Waktupun semakin merayap cepat, tak peduli dengan kerepotan kami di atas motor yang dipenuhi barang-barang yang akan kubawa nanti. Akibatnya? Suami tidak bisa ngebut karena susah mengendalikan motor dibalik koper-koper dan tasku. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.45 ketika kami sampai di bandara. Dengan tergopoh-gopoh kujinjing tas dan koperku menuju loket check in Garuda Airlines. Tapi sungguh sial, aku seperti orang linglung saja mondar-mandir mencari loket maskapai ini, sampai akhirnya kutemukan di deretan pojok. Berlarilah aku sambil menyeret koper-koper besarku. Pukul enam kurang 5 menit.

Perlahan tapi pasti, mukaku pucat pasai melihat loket yang aku tuju sudah diberi keterangan tulisan TUTUP. Bagaimana mungkin?Dengan berbagai cara, akupun merayu para petugas untuk bisa membantuku masuk pesawat, tapi yang ada hanyalah omelan dan teguran sinis mereka dengan suara tinggi yang sepenuhnya menyalahkan keterlambatanku. Tak ada cara lain.

Setelah proses negosiasi yang panjang, akhirnya mereka bersedia membantuku menjadwal ulang hari keberangkatanku, yaitu tanggal 21 Oktober 2010! Buliran air matapun mengalir deras di wajah pucatku. Tak bisa kubayangkan betapa malunya aku di hadapan dosen-dosen dan juga murid-murid yang telah menantiku disana. Tapi apa hendak dikata, nasi sudah jadi bubur. Aku yakin pasti ada hikmah dan rencana indah yang akan diberikan Tuhan untukku dan suamiku. Dengan langkah gontai kamipun kembali kerumah.

10 November 2010

Hawa dingin di daratan China ini terasa begitu merasuk tulang, kurapatkan kembali baju tebal dan selimutku. Tapi tak berapa lama, rasa ingin kebelakang pun mulai mengganggu tidurku lagi. Dengan malas kubuka selimut dan turun dari tempat tidurku yang bertingkat di asrama mahasiswa ini. Aneh, rasanya di dalam badanku ini ada sesuatu yang berubah. Staminaku tak sekuat dulu lagi, selera makanku yang tadinya normal sekarang bermasalah, mual-mual dan muntah-muntah yang datang tak kenal waktu. Apakah yang sebenarnya terjadi pada tubuhku?pikirku heran. Tampaknya teman-teman sekamar asramaku sudah jauh-jauh hari menaruh curiga kepadaku.

Sampai suatu hari, Hoang Rong tampak tergopoh-gopoh berlari masuk kamar asrama dan langsung memberiku sebuah bungkusan. Cepat buka dan pakai! Sekarang juga! Katanya dengan nafas memburu. Perlahan kubuka bungkusan itu dan senyumku merekah. Sesudah itu aku langsung menuju kamar kecil untuk membuktikan dugaan temanku. POSITIF! Dua strip merah perlahan tapi pasti muncul di batang testpack ini. Seakan masih tak percaya, kutunjukkan kepada teman-teman seasramaku. Mereka pun bersorak-sorai kegirangan. SELAMAT INTAN! Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ibu!

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas karuniaMu yang tak ternilai harganya ini. Puji syukur ke hadiratNya tak henti-hentinya aku panjatkan. Namun, sesaat kemudian aku pun dilanda sebuah dilema yang hebat. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan selama masa kehamilanku tanpa suami di sisiku? Bagaimana dengan beasiswaku nantinya? Apakah murid-murid baruku yang sedang semangat-semangatnya belajar Bahasa Indonesia akan kutinggalkan nantinya? Beribu pertanyaan dan pertimbangan membuat aku stress dan hilang akal. Entah bagaimana reaksi Bapak Ibuku nanti, mereka yang sejak awal sudah menyarankanku untuk berKB tapi tak kuikuti anjuran mereka.

Hari-hari yang berat di trisemester pertama ini aku lalui sendiri, tanpa kehadiran kandaku tersayang. Sebenarnya aku tegar menjalani semuanya sendiri, tapi aku bukanlah batu karang. Kadang saat mual-mual dan muntah-muntah, aku terisak-isak sedih sendirian di kamar mandi meratapi malangnya nasibku. Sore hari kala aku pulang dari kuliah atau mengajar, rasa capek dan pegal-pegal tiba-tiba menjalar dan tak ada suami yang siap memijitku. Terlebih lagi malam hari kulalui dengan resah gelisah, dingin menyelimuti, tanpa dekapan dan belaian hangat suami. Oh nelangsanya nasibku!

Januari 2011

Aku harus membuat keputusan!Aku harus memilih! Setelah perdebatan dan diskusi yang panjang dengan suami dan keluarga, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan beasiswa dan pekerjaanku di China ini. Pulang. Ya, pulang mungkin solusi terbaik bagiku dan calon anak kami. Batinku juga sudah tak tahan lagi jika harus berpisah dengan suami terlalu lama. Cukup sudah 4 bulan masa kehamilan kulalui sendiri. Tanpa tempat berkeluh kesah dan bermanja-manja. Lagipula aku tak boleh egois, menelantarkan tumbuh kembang anakku di negeri komunis ini. Insyaallah inilah pilihan terbaik untukku dan anakku saat ini. Amin…



Copyright 2018. All rights reserved.

Posted April 20, 2011 by intan rawit in category "Just Something Personal

22 COMMENTS :

    1. By intan rawit (Post author) on

      terima kasih bu…mual2nya dah jauh berkurang kok, cm kadang2 aja..alhamdulillah dah masuk trisemester yang ketiga 🙂 mohon doanya ya bu monda..

      Reply
  1. By Deni on

    wow keren jenk melewati masa2 awal kehamilan sendiri…
    saiki di puas2ke mumpung wis bareng suami,hee

    Reply
    1. By intan rawit (Post author) on

      iyo jeng…saiki wis ayem tentrem dah bareng soalnya…hihihi

      [WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us ‘0 which is not a hashcash value.

      Reply
  2. By mama aksi on

    Ceritanya indah sekali mbak…sangat menyentuh dan penuh cinta. Anak mbak pasti akan sangat bangga pada ibunya. Selamat ya mbak….

    Reply
  3. By bintangtimur on

    Amiiin.
    Insya Allah itu adalah pilihan terbaik buat keluarga yang Intan miliki. Kadang kita harus menepikan sejenak kepentingan pribadi, buat kepentingan lain yang lebih besar…
    Selamat buat kehamilannya, selamat juga buat pilihannya!
    🙂

    Reply
  4. By bintangtimur on

    Ikutan seneeeeeng baca posting ini, salut buat kehebatannya sendirian di awal-awal kehamilan, di negara orang lain pula…wuih, hebat…

    Reply
  5. By BunDit on

    Selamat atas kehamilannya, Hidup itu memang penuh pilihan. Insya allah yang telah mbak pilih adalah yg terbaik 🙂

    Reply
  6. By anna on

    weits.. ada bumil di sini..
    selamat ya Intan.. semoga diberikan kelancaran dan kesehatan selalu… jaga kesehatan yaaa

    Reply
  7. By nh18 on

    Saya hanya bisa berharap dan berdoa …
    Semoga semuanya sehat-sehat saja …
    semoga semuanya lancar-lancar saja

    salam saya

    Reply
  8. By ismi on

    alhamdulillah.. wah….. selamat mbak intan. ihiiii…. bakalan seru nih besok

    Reply
  9. By kang ian dot com on

    aduh jadi terharu, senang sekaligus iri dengan kehamilan mbak intan.. jadi inget istri di rumah dah lima bulan niih xixixi maksudya dah lima bulan nikah belum juga hamil 😀

    Reply
  10. By Lyliana Thia on

    Intan, gimana kabarnya… duh, udah lama nggak main kesini… Eh, skrg tinggal dimana? Berarti skrg udah brp bulan Intan? Bentar lg lahiran ya?

    Reply
  11. By tomi on

    selamat ya mba.. smoga anaknya kelak menjadi anak yg baik dan berguna bagi nusa dan bangsa

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *