.entry-content p { text-align: justify; }
May 29

Obsesi sang Ayah

Seorang gadis kecil berpotongan rambut Demi Moore, berlari-lari lincah sambil menjinjing sepasang sepatunya (nyeker) pulang dari Sekolah Dasar sambil bernyanyi-nyanyi riang gembira. Tak sabar mencicipi masakan makan siang yang sudah disiiapkan ibu untuknya. Tak sabar untuk segera bermain petak umpet bersama teman-teman sebayanya, menangkap ikan-ikan gondok di pinggir sawah ataupun sekedar mencari buah strawberi liar di kebun tetangga.

Tapi, Sang Ayah ternyata sudah menunggunya di depan pintu. Menyambut sang putri kecilnya masuk ke rumah, sedikit mengomel kenapa tiap pulang sekolah selalu nyeker, tak pernah dipakai sepatunya. Menyuruhnya segera ganti baju dan segera makan siang.

Setelah menyantap makan siang, sang ayah menyuruh si putri kecil untuk beristirahat sejenak sementara sang ayah mempersiapkan peralatan yang akan dibawa.

“Hari ini adalah hari Senin, jadwalnya berlatih badminton. Pak Agus bilang sebulan lagi akan ada pertandingan PORSENI, kamu harus lebih giat berlatih ya! Pokoknya harus jadi juara ! Ujar ayah sambil mempersiapkan raket, kok dan sepatu olahragaku.

“Nggih Pak” ucap si putri kecil.

…………………………..

Hari Selasa

Lagi-lagi ayah sudah menunggu si putri kecil di rumah, sambil mengelap motor butut kesayangannya. Seperti biasa ayah menyuruhnya untuk segera ganti baju dan makan, setelah itu tidur siang. Pukul 14.30 nanti ayah akan mengantarkan si putri kecilnya ke pusat kota di lapangan KODIM. Ayah pun segera mempersiapkan seragam putih dan sabuk si putri kecilnya, tak lupa sebotol air minum dimasukkannya ke dalam tas.

Fiuhhh…hari ini jadwalnya latihan karate…batal sudah janji si putri kecil bermain layangan bersama si iput.

………………………..

Hari Rabu

Hari ini si putri kecil pulang lebih awal karena guru-guru ada rapat di sekolah. Tak ditemuinya sang Ayah di dalam rumah. Horeeeeee…!!! girang sekali hatinya. Diletakkannya tas dan sepatu, digantinya seragam sekolahnya, disantapnya makan siang yang disiapkan ibunya, secepat kilat. Setelah itu wessssss, melesatlah dia ke salah satu rumah temannya sambil membawa seperangkat permainan rumah-rumahannya.

Tak lama pun mereka asik bermain pasar-pasaran. Memetik daun-daun dan bunga-bunga untuk dimasak, menata peralatan rumah, dan berbelanja di pasar.

Tapi pada waktu si putri kecil itu asyik bermain dengan temannya, tiba-tiba ayahnya muncul sambil membawa bat dan bola pingpong.

“Ayo nak, kemasi mainanmu! Bapak ajarin kamu main pingpong!

………………………………….

Hari Kamis

“Nak, kamu sudah selesai mengerjakan peer? Sini bapak ajari bermain catur. Sebentar lagi ada pertandingan PORSENI tingkat kabupaten, Bapak ingin kamu ikut dan jadi juara!!

…………………………………….

Dan waktupun berlalu begitu cepat, tak sadar sang putri kecil beranjak dan tumbuh dewasa. Mungkin teman-teman berpikir bahwa si putri kecil ini akan tumbuh menjadi seorang atlet ternama yang mengharumkan nama Bangsa Indonesia di perhelatan PON, SEA GAMES dan pentas-pentas olahraga sejenisnya.

Tidak! Sama sekali tidak. Karena apa? Karena sang putri kecil tadi tidak pernah melakukan semua yang diperintah ayahnya dengan sepenuh hati. Sayang sekali obsesi besar sang Ayah tak sempat terwujud.

Tapi apakah sang Ayah kecewa terhadap putri kecilnya? Yang gagal menjadi atlet nasional?

Ya.Mungkin.

Terkadang orang tua begitu terobsesi mewujudkan cita-cita yang tak sempat diraihnya dulu sewaktu muda, sehingga anak-anak menjadi harapan dan tumpuan mereka. Tetapi apakah dapat dibenarkan? Atau apakah orang tua harus membiarkan anak mereka tumbuh dengan sendirinya dan menemukan bakat mereka?

Tak taulah, yang jelas Bapakku telah sukses menjadikanku-si putri kecilnya- gadis tomboy penggila olahraga, yang kadang melupakan sifat feminimnya sebagai perempuan.

note : hari minggu nih, main pingpong yuk? atau mau main badminton?



Copyright 2018. All rights reserved.

Posted May 29, 2010 by intan rawit in category "Just Something Personal

26 COMMENTS :

  1. By betty on

    betul…
    semua itu yg penting anaknya mau atau tidak ,kacau jadinya kalau sang anak di paksa oleh kedua orang tuanya…
    tp ada benarnya keputusan oranga tua itu mmg yg terbaik untuk kita.

    salam kenal….. :-))

    Reply
  2. By intan rawit (Post author) on

    tidak lain tidak bukan adalah bapakku sendiri abrusss…hehe..selamat yah dapet pertamax, dapet bonus payung! Iyah bener sekali, setuju brus…

    Reply
  3. By delia on

    wekekek.. cerita pribadi mbak intan….
    Kalo lia.. abah selalu menentang even lia juara pun tak pernah mendapat pujian.. namun dengan itu lia semakin semangat
    karena dalam hati lia tahu sseorang abah itu sangat menyayangi putrinya… walaupun obsesinya tidak terpenuhi 🙂

    Reply
  4. By yani on

    ckckck.. tomboy penggila olga?
    pantesan intan ngga suka payung cantik.. dan mending ngasih payungnya ke abrus 😀

    Reply
  5. By arsumba on

    keknya sependapat dengan mas abrus..
    sesuatu kalau dilakukan setengah hati, kadang hasilnya juga setengah2..

    Reply
  6. By Ari on

    wah, yang pasti tetep bangga lah sama putri tercintanya…. biarpun tidak menjadi atlet, tapi manfaat dari didikan orang tua kita pasti sedikit / banyak bermanfaat… misalnya jadi suka olah raga, sehat, dsb…

    Reply
  7. By Deka on

    Biar bagaimanapun orang tua akan tetap bangga. btw I like gadis tomboy.hehehehhe

    [WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us ‘0 which is not a hashcash value.

    Reply
  8. By aguskusuma on

    tomboy tapi cantik, ga masalah,…
    pnya kepribadian dan pnya bkt yg tinggi pasti pnya masa depan yg sgt cerah

    Reply
  9. By vany on

    kadang2 saia jg sering merasa sedih kalo tdk bisa memenuhi harapan ayah saia, mbak…hehehe
    tapi, yah mau gimana lg…
    kadang2 saia dan anak2 lainnya mempunyai pilihan sendiri2 siyh… 😀

    Reply
  10. By idana on

    walau keinginan tak bisa terpenuhi…orang tua pasti tetep bangga koq sama anaknya 🙂

    Reply
  11. By DeNi on

    tulisan yang mendalam bu…

    [WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us ‘0 which is not a hashcash value.

    Reply
  12. By arman on

    yup betul… emang sering kali terjadi seperti itu ya…
    begitu juga sama gua. gua pun tanpa disadari juga begitu. haha. yah jadi orang tua juga perlu belajar sih… gak ada yang bisa jadi orang tua yang sempurna… 😀

    Reply
  13. By nh18 on

    Saya tidak bisa menjawab pertanyaan kamu nih …
    Jujur saja …
    Sebagai seorang ayah … saya ingin anak-anak saya menguasai sebanyak mungkin keahlian …
    dan … ya … kadang menjadi terlalu bernafsu … sehingga lupa …
    bahwa anak punya minat sendiri-sendiri

    salam saya

    Reply
  14. By delia on

    Kalo tidak salah lia udah komen deh 🙄

    Jadi ingat abah… bersyukur kita punya orang tua yang tidak mengekang anak pada ujung nya….^_^

    Reply
  15. By rizal on

    ayah yang baik………

    [WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us ‘0 which is not a hashcash value.

    Reply
  16. By bintangtimur on

    Entah kenapa, saat baca posting ini saya jadi ingat almarhum ayah saya…mata saya malah udah berkaca-kaca…
    Dulu, ayah saya ‘hanya’ mewajibkan semua anak-anaknya buat bisa tennis lapangan dan menyetir mobil sendiri. Latihannya seminggu 2 kali, kalo nyetir sih bisa-bisa hampir tiap hari.
    Saya dan adik-adik sering melakukan hal itu dengan setengah hati. Apalgi kalo males, wah, ada cerita muka ditekuk segala macem 🙁
    Tapi sekarang, saya amat sangat bersyukur dengan ‘obsesi’ ayah tersebut. Semuanya sangaaaaaaaat bermanfaat…!
    Thanks, Pap, miss u very much!

    Reply
  17. By indovision on

    Sebagai ayah sudah pasti mau anak2nya menjadi yang terbaik, meskipun sang anak tidak sepenuh hati menjalankannya.
    Itu tanda sayang seorang ayah kepada anaknya.

    [WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us ‘0 which is not a hashcash value.

    Reply
  18. By Gombal on

    si ayah udah baca tulisan ini belum, ya???

    [WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us ‘0 which is not a hashcash value.

    Reply
  19. By Iqwal Akmar on

    Woooyyy Aku Menanyakan Poster Tentang Porseni kok malah curhadd

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *